Sebe Kantin Sastra

Kampus tetap seperti biasanya. Tak banyak yang berubah. Kecuali mungkin tentang wajah-wajah yang familiar yang sudah beberapa hari belakangan ini terlihat jauh lebih sering menyambangi kedai kopi mungil ini. Selebihnya? Tak ada yang baru.

Sebe tetap dengan sebatang rokok Surya yang terjepit siksa di antara kedua jari-jarinya yang penuh kerutan waktu. Tangan berkerut yang dulunya ketika muda pernah ikut memanggul senjata memperjuangankan kebebasan tanahnya Minahasa dari dominasi tentara pusat yang diutus untuk meredam suara-suara protes anak-anak Lumimuut Toar. Sebuah perang yang sebenarnya lebih karena keangkuhan penguasa yang ingin membajak semua kekayaan daerah untuk kemudian ditampung di gudang-gudang uang mereka. Sikap yang hingga kini masih jelas tersisa pada penguasa hari ini.

Sebe tetap dengan sebatang rokok Surya yang terjepit siksa diantara kedua jarinya yang penuh dengan kerutan waktu. Tangan yang setiap hari menyeduh segelas kopi bagi setiap orang yang singgah di kedai ini. Tangan yang setiap hari dengan setia mengantarkan kopi pesanan ke meja orang-orang yang mungkin lebih layak dipanggilnya cucu. Anak-anak muda yang justru lebih akrab memanggilnya dengan sebutan Sebe. Bahasa Malayu Manado yang berarti bapak. Dan hingga kini, belum ada yang protes dengan sebutan itu. Sekalipun Sebe. Dia sepertinya ikut menikmati julukan yang kami berikan padanya.

Sebe tetap dengan sebatang rokok Surya yang terjepit siksa diantara kedua jarinya yang penuh dengan kerutan waktu. Tangan yang selalu setiap pagi menampung air untuk kemudian diseduh menjadi bergelas-gelas kopi yang kemudian akan dinikmati bermulut-mulut yang beberapa diantaranya memang sudah menjadi pelanggan setia di kantin ini. Dan salah satu mulut itu adalah mulutku. Mulut yang sudah sangat sering menghamburkan kata demi kata yang kemudian dirangkai menjadi sebuah dialog ketika itu bertemu dengan kata demi kata yang keluar dari mulut yang lain. Mulut yang pasti adalah penikmat kopi racikan Sebe.

Sebe tetap dengan sebatang rokok Surya yang terjepit siksa diantara kedua jarinya yang penuh dengan kerutan waktu. Tangan yang seingatku, adalah tangan yang selalu siap mengulurkan tangan untuk menolong kami mendaki tangga-tangga impian kami. Impian yang bagi mayoritas dosen dan teman-teman di kampus ini, adalah sebuah upaya mengejar kemustahilan semata. Upaya untuk membangun kebudayaan di tanah sendiri dengan semua daya upaya maksimal yang kami punya, adalah sebuah niat yang lebih besar dari dosa mengkhianati keabsahan sejarah yang bohong namun ditahbiskan sebagai sebuah kebenaran selama riwayat bangsa ini berdiri. Berdiri diatas ribuan bangkai manusia-manusia yang dianggap tak layak mendapatkan jatah hidup lebih lama di republik ini.

Sebe tetap dengan sebatang rokok Surya yang terjepit siksa diantara kedua jarinya yang penuh dengan kerutan waktu. Tangan yang selalu setia menyodorkan sebatang rokok ketika kami berusaha menghalau waktu dengan kepulan asap. Meski menurut hitungan ekonomi yang aku sendiri tidak terlalu mahir, Sebe tak akan menggeruk banyak untung dari bungkus demi bungkus rokok yang dijualnya eceran di kantin ini. Karena kini, lebih banyak mahasiswa yang lebih senang merokok jenis yang dianggap lebih gaul dan trendi. Daripada kemudian harus membeli rokok Surya yang dijual Sebe. Rokok yang bagi sebagian besar mahasiswa adalah rokok para buruh ataupun kuli bangunan. Rokok para orang pinggiran. Tak jauh beda dengan kami yang terpinggirkan di kampus ini.

Sebe tetap dengan sebatang rokok Surya yang terjepit siksa diantara kedua jarinya yang penuh dengan kerutan waktu. Tangan yang dulu sempat membantuku menempel poster murahan yang berisikan pengumuman peluncuran buku puisi yang rutin kami adakan setiap bulannya. Sebuah usaha yang dilakukan dengan kesadaran identitas. Sebuah upaya sistematis kami untuk menegakkan identitas ditengah usaha yang jauh lebih sistematis dari sistem ekonomi dominan di dunia saat ini, untuk mengaburkan identitas masing-masing individu. Mendorong dengan sengaja tiap personal agar jatuh di kubangan lumpur atas nama keseragaman.

Sebe tetap dengan sebatang rokok Surya yang terjepit siksa diantara kedua jarinya yang penuh dengan kerutan waktu. Tangan yang kulitnya kini semakin berwarna coklat hangus dibelai sinar matahari yang setiap detik maju, berubah semakin ganas. Lebih ganas untuk membalas keganasan manusia yang tanpa otak menghancurkan alam demi akumulasi keuntungan berlipat. Dan ketika alam menunjukkan kuasanya, Tuhan pun didaulat menjadi yang bersalah atas semuanya, dan diharuskan bertanggung jawab. Menanggung semua dosa yang tak ia lakukan. Dan aku yakin Tuhan tak akan mau dengan bodohnya kembali terjebak pada upaya heroik tanpa hasil untuk menebus dosa manusia.

Sebe tetap dengan sebatang rokok Surya yang terjepit siksa diantara kedua jarinya yang penuh dengan kerutan waktu. Sebuah kebiasaan yang dalam pandanganku mencerminkan keteguhan hatinya. Hati seorang Minahasa yang tak akan pernah mengenal ragu ketika diharuskan menempuh pilihan. Walau mungkin pilihan itu akan membuat angan-angan idealnya dulu ketika masa kanak-kanak tak akan pernah sukses.

Sebe tetap dengan sebatang rokok Surya yang terjepit siksa diantara kedua jarinya yang penuh dengan kerutan waktu. Jepitan keras yang menggambarkan kerasnya hidup yang telah sempat dilaluinya. Pengalaman yang penuh luka namun kini bisa dengan bangga diumbarnya menjadi permenungan sejarah ketika aku dan beberapa kawan meladeninya untuk berdialog. Berdialog penuh semangat seakan ia lupa kalau Sebe tak lagi muda. Tak lagi seumuran kami yang rata-rata masih belum berkepala tiga. Tapi mungkin hanya dengan kami, Sebe bisa dengan bebas menceritakan semua yang masih tersimpan rapi dalam lemari ingatannya tentang semua liku Permesta. Kisah kepahlawanan yang kemudian oleh penguasa negeri ini, dianggap sebagai sebuah noda sejarah yang tidak boleh terulang lagi.

Kampus tetap seperti biasanya. Tak banyak yang berubah. Kecuali mungkin tentang wajah-wajah yang familiar yang sudah beberapa hari belakangan ini terlihat jauh lebih sering menyambangi kedai kopi mungil ini. Selebihnya? Tak ada yang baru. Sebe tetap dengan sebatang rokok Surya yang terjepit siksa diantara kedua jarinya yang penuh dengan kerutan waktu.