Evolusi

Aku sudah memperkirakan kalau keadaannya akan menjadi seperti ini. Kecemburuan pasti akan berujung pada sebuah penarikan kesimpulan yang cenderung subjektif. Dan mengakibatkan sebuah kesalahan pikir yang sebenarnya masih bisa untuk diluruskan. Namun itu semua juga tergantung dari insiatif untuk merubah dan membuka diri terhadap pengaruh dari luar. Karena menutup diri tidak selamanya mampu menjawab kontradiksi yang telah atau sedang dihadapi. Sebab hakekat kita sebagai makhluk sosial mengharuskan kita tanpa kompromi untuk mau beradaptasi dan membayar semua kompensasi yang setimpal.

Namun hal ini belum juga mampu dimengerti oleh Eda. Perempuan pintar dan tangguh yang selama ini telah kuanggap sebagai saudara. Bahwa kehidupan tidak akan pernah berjalan seperti apa yang kita harapkan. Bukan berarti aku adalah tipe orang yang memasrahkan diri pada apa yang mereka sebut dengan takdir. Namun aku sedikit paham bahwa hidup ini penuh dengan misteri yang akan terus datang menghadang, sebagai ujian atau sebagai putusan akhir.

Eda tak mau mengerti jalan yang kupilih. Tidak mampu menyelami berbagai alasan yang melandasi keputusanku. Pondasi kokoh yang telah kusiapkan untuk menghadapi gempuran badai dari lingkungan sekitarku. Termasuk dari dirinya. Sebuah benteng pertahanan juga tempat membangun kekuatan untuk meyerang balik semua stigma sepihak yang dihujam kepadaku.

* * *

“Bilang saja kalau kau demoralisasi. Jangan berkilah. Jangan menyangkal. Karena itu hanya akan makin membuat kawan-kawan yang lain terjebak dalam kebingungan.”

Kutatap lekat-lekat sepasang bola mata hitam itu. Dua biji mata yang memancarkan kemarahan tertahan, yang kini hanya mampu diekspresikan lewat dentuman kata yang kian meninggi.

“Apa disini kau tidak bisa berkarya ? Apa disini kau tidak bisa berproduksi? Apa tempat ini menjadi penjara bagimu? Dan kami berubah menjadi sipir-sipir garang yang setiap saat siap sedia menerkammu?”

Aku tak menanggapi. Hanya kebisuan yang kudorong untuk menjadi tameng dari muntahan pertanyaannya. Aku terus merapikan pakaianku yang dulu sering sekali tercecer di berbagai tempat. Di belakang pintu, dibawah meja, di sofa, dan masih banyak tempat yang lain. Dan Eda adalah orang yang tetap setia mengumpulkannya demi aku. Walau sesudah itu, aku harus siap mendengarkan ocehan dan umpatan keluar dari mulutnya. Sebuah protes akan sikap tidak disiplinku dalam hal ini. Tapi aku mengerti, dibalik kegarangan yang ditampilkannya, ada sebuah sisi kelembutan yang sekarang mungkin tak akan lagi kutemui. Sebuah bentuk persahabatan yang melebihi balutan kata-kata romantis yang justru lebih dominan gombal.

“Kau sungguh berubah Fin. Tak kuat lagi seperti dulu. Tidak lagi setangguh Refin yang kukenal selama ini. Kau takluk.”

Kupalingkan wajahku sembari mengirimkan sebingkis senyum yang kuharap bisa sedikit mendinginkan temperatur emosi Eda. Namun yang kulihat justru sebentuk wajah bulat yang kini tergambar garang dan memerah menahan marah. Sebuah roman muka yang melukiskan amarah.

“Apa ini karena hubunganmu dan Ine berakhir? Apa karena putus cinta, sehingga kau harus mengorbankan cita-citamu dan bersembunyi? Apa seorang Refin yang dulu mempunyai rasa solider tinggi kini berubah menjadi egois? Mengorbankan orang banyak hanya untuk mengubur ketidak mampuannya secara individu? Apa ini Refin yang sangat kubanggakan didepan banyak orang sebagai kakak, sahabat dan guru terbaik yang pernah kudapatkan? Apa karena cinta seorang Refin menjadi pengecut dan lari bersembunyi?”

Kuhentikan aktivitas untuk sekian detik. Mencoba mendengarkan deru nafas yang semakin cepat dari manusia di sebelahku ini. Kegundahan yang memuncak dan siap meletus dan menyemburkan laharnya kesekitar.

Eda tak mampu menyelami kedalaman masalah dan menemukan pangkal dari semua ini. Bahwa bukan sebuah kisah cinta yang melahirkan keputusan berat seperti sekarang ini. Tidak sama sekali. Bukan juga sebuah pelarian dari sakit. Bukan. Karena aku bukan pengecut yang mau terus sembunyi dalam ketakutan. Aku sudah menerima kenyataan ini.

Tapi sebuah desakan rongga dada yang sesak oleh sempitnya ruang. Sebuah dorongan untuk ke alam bebas dan menari sepuas hati. Tanpa batasan waktu, tanpa tekanan mental. Sebuah butuh akan pijakan kaki hati walau hanya setapak. Sebongkah rasa tertekan yang meluap menjadi pemberontakan terhadap keterkungkungan bahasa. Ini adalah metamorfosa mutakhir dari dialektika ideologis. Obsesi terhadap sebuah rumah yang berpayung awan cerah dan lembut tiupan angin sepoi.

Aku spesies berbeda dengan mereka. Harus kembali ke kumpulannya. Sebuah komune yang sejenis. Lingkungan yang akan memberi banyak darah bagi tubuhku yang semakin kurus dimakan penyakit liver. Aku ingin memuaskan dahagaku yang haus bertahun-tahun. Coba dilupakan dengan tenggelam dalam ritme berbeda namun coba dipaksa sama.

Aku butuh penjara yang baru. Tempat yang berbeda yang mampu membantuku mengeksekusi semua gelayut ide yang kini hanya bisa menggantung. Aku ingin bentuk lain dari bentuk yang ada sekarang. Aku hanya ingin sebuah arena baru. Sebuah gelanggang duel dimana aku bisa ikut bertarung. Tidak hanya menonton.

Subjektif ? Mungkin. Tapi ini adalah integral manis yang kadang tidak ingin kusingkirkan. Sebab aku tidak mau berbohong, bahwa manusia juga punya sisi individualistis yang harus tetap awet agar kita tak mati. Sisi barbarian yang harus tetap ada untuk menjaga kita agar tetap hidup. Aku butuh rasa kalah dan menang hadir sekaligus dalam diri.

Manusia sempurna bagiku, adalah orang yang tetap bisa memelihara sisi humanismenya dalam praktek barbarnya. Begitupun sebaliknya. Bukankan teori dan praktek harus jalan beriringan ? Bisakah ide lahir tanpa materi ?

* * *

“Aku sekarang tinggal di depan kantor pos, tepat disamping rumah Vicky. Kau tahu tempatnya kan? Nomor hapeku tidak diganti. Jadi kalau butuh bantuan atau ingin diskusi, kau bisa menghubungiku kapan saja. Aku tetap siap membantu.”

Kulepaskan sedikit beban dengan berusaha menjawab sembari memanggul ransel biru yang sudah hampir tersedak dengan tumpukan kaos dan berbagai properti yang mungkin kumuat karena kuanggap bisa berguna nanti. Mengayun langkah dengan sedikit tergesa, mencoba keluar dari kamar ini dan mengakhiri perdebatan.

Tak sedikitpun aku berpaling walau hati kecilku meronta, meminta walau sedetik mengambil raut wajah Eda agar bisa terus kusimpan. Saat rasa menguasai akal, kita memang cenderung berubah menjadi egois dan munafik.

Letupan-letupan suara tadi telah mereda. Seperti lambang kekalahan dari sebuah pertempuran. Atau mungkin simbol kedewasaan dan rasa paham akan sebuah pangkal masalah yang harus mampu dilihat dari berbagai segi agar objektif. Dan aku semakin ringan melangkah, meninggalkan sebuah tempat yang telah kudiami selama hampir tiga tahun. Mengangkangi ribuan memori kebersamaan dengan puluhan orang yang silih berganti memberi warna dalam hidupku.

Hidup harus terus berlanjut dan kebenaran hanya akan teruji oleh rentang waktu dalam bentuk sejarah. Begitupun diriku. Mencoba terus berlari dalam perlombaan panjang yang belum kumenangkan. Tapi semangat ini belum pudar. Karena aku menolak takluk oleh detik, menolak mundur oleh menit. Aku masih sanggup menghunus pedang. Masih kuat untuk mengayun gada perlawanan.

Andre Barahamin