Diari Segelas Kopi: #05

Selasa, 16 Oktober (tahun sekian)
09.56 WITA

 

Angin kali ini seperti biasa lupa menyapaku. Sekedar singgah dan mengucapkan halo. Selalu berlalu dengan meninggalkan sedikit hembus yang sempat mengelus punggung leherku. Dan aku tak bisa protes dengan hal ini. Angin akan selalu seperti ini. Seperti sikap Arung padaku. Meniadakan, atau menolak kehadiranku ?

Padahal sedari tadi pagi dia telah berada di sini. Meski kedai ini masih sunyi dari hingar bingar manusia-manusia yang berlomba mengumpul jejak-jejak waktu dan himpitan dari manusia yang lainnya. Dia masih dengan enteng menenggelamkan dirinya dengan pandangan kosong ke arah barisan gedung-gedung mewah yang dengan angkuh menertawakan alam yang takluk di hadapan kakinya. Barisan bata yang disusun dengan sengaja oleh anak manusia untuk menjadi prasasti keangkuhan mereka. Menjadi sebuah mantra penghancur waktu agar rongsokan ini menjadi kenangan di masa depan. Tumpukan kesalahan yang akan diwariskan dengan sadar kepada bayi-bayi mungil yang akan lahir di sela putaran bumi berikut.

Aku sangat tahu yang sedang dipikirkannya saat ini. Arung pasti sangat merindukan pemandangan pantai yang telah mencuri sebagian hatinya sejak lahir. Pantai yang selalu mengingatkannya pada riak ombak dan barisan gelombang di kampung halamannya. Deburan air laut yang selalu menjadi kerinduan terdalam. Sebuah rindu anak kepulauan yang besar dan mendidik diri, mengerti hidup bersama tarian ikan-ikan dan rumput laut. Belajar tentang kedewasaan dan kegigihan dari ganasnya ombak yang menghajar tubuh yang sedang mengapung di atasnya.

Ya. Arung yang kuketahui berasal dari Nanusa sangatlah menghargai laut. Baginya, laut adalah sebuah permadani indah yang selalu penuh dengan cerita kehidupan. Laut adalah cinta yang tak bisa tergantikan oleh cinta kepada perempuan manapun. Sekalipun itu aku.

Dari lautlah Arung belajar mengenal kegirangan ketika berhasil menjubi ikan pertamanya. Memperoleh upah kerja kerasnya dalam sebentuk ikan lape ataupun seekor ikan sunga setelah seharian menari diatas permukaan laut dan membiarkan punggungnya hitam terbakar matahari.

Dan dari birunya air asin ini pula ia mengenal pedih ketika harus melihat perahu kakaknya tak kembali saat bulan datang mengunjungi bumi. Ditelan gelombang setelah kalah dalam pergulatan malam yang disaksikan badai.

Pernah aku melihat Arung dengan begitu bersemangat menceritakan tentang mane`e di kampungnya. Dengan binar bahagia seorang anak kecil yang baru saja dikabulkan inginnya, Arung memaparkan prosesi yang harus dijalankan sebelum, sementara, sampai selesainya upacara mane`e ini.

Meski sering juga terselip kemarahan kecil terlontar darinya ketika dia harus mengungkapkan tentang kemiskinan yang belum jua beranjak dari kampungnya. Tentang sekolah yang tetap kekurangan guru meski penerimaan PNS berlangsung tiap tahun dengan jumlah ribuan. Tentang ketiadaan teknologi pertanian sehingga hasil panen kopra terus merosot turun tak terkendali. Tentang listrik yang masih sering terlambat pengiriman bahan bakarnya sehingga harus ada pemadaman lampu sepanjang hari, sampai pada kesal ketika sampai sekarang masih sangat sedikitnya kapal yang mau berlayar mendapati kampungnya yang terletak jauh di utara Indonesia.

Tapi di balik semua itu, jelas tersimpan sebuah kecintaan yang sangat sulit menemukan padanan kata untuk di ungkapkan. Kapanpun dan kepada siapapun, dia selalu dengan bangga akan mengaku sebagai anak Nanusa. Anak dari pulau kecil jauh di utara. Anak laut, anak bumi yang dibesarkan agar mengerti arti menghargai alam sebagai ciptaan Yang Maha Kuasa.

“Woi, manghayal apa ngana?”

Tepukan kasar yang mendera tubuh Arung sekaligus membuyarkan lamunannya datang dari lelaki yang tak kutahu dari mana datangnya.

“E, ngana. Baru dapa lia ini. Bagemana kabar Gorontalo? Trus bagemana tu sanggar yang ngana da sementara beking di sana? Bagemana tentang Mia pe buku puisi ? So terbit ? Kong yang laeng da beking apa ?”

Arung tanpa sabar menyerbu dengan tanya yang seperti tak ada ujungnya. Penuh rasa ingin tahu yang dibungkus rindu yang mencair ketika orang yang dinanti akhirnya berjumpa.

Pasti laki-laki ini bernama Ran. Karena dulu Arung pernah menyebut-nyebut tentang seorang kawan baiknya yang sedang pulang kampung untuk membangun sebuah komunitas seni bagi anak muda disana. Meninggalkan sejenak kemunafikan dunia kampus menuju rumah yang sedikit lama telah ditinggalkan.

Padahal, ia tinggal selangkah lagi menjadi sarjana. Asal ia mau sabar dan menanti dosen-dosen rentenir itu menyebutkan nominal rupiah yang mereka kehendaki.

Tapi kenyataannya berbeda. Rhan memilih hal yang dianggapnya kebih mendesak, penting dan untuk kepentingan banyak orang. Memilih membangun sanggar seni sekian bulan, dari pada menghabiskan waktu yang berputar hanya dengan segepok kertas putih yang berulang kali ditolak. Menurut penuturan Arung, itu karena skripsi yang akan Ran ajukan berkaitan kebudayaan daerahnya. Dan belum ada satupun profesor yang meneliti dan mendalami tentang kebudayaan ini layaknya Ran.

Dia berbeda. Ran termasuk tipe ulet yang pantang menyerah dalam mengejar tujuan dan mewujudkan mimpi. Meski pendiam, dia adalah tipe pekerja keras dan serius dan segala hal.

“Mana pia Gorontalo? Ada to ole-ole? Jang bilang nyanda. Ngana da baca to qta pe sms?”

“Ada no. Mar di tampa kos uti. Masa qta mo ba bohong pa ngana.”

“Brarti qta sabantar ba tera disana ne? Skalian bacrita banya’ tentang kabar tamang-tamang di sana. Oi to bos?”

Sebungkus rokok dibanting dengan lembut keatas meja oleh orang Gorontalo ini. Dari jauh aku bisa melihat bahwa ini jenis rokok yang sering dihisap oleh Arung dan hampir semua orang di kedai ini. Dan aku jelas kenal dengan jenis rokok ini karena Sebe Manus juga menjualnya meski hanya sekedar untuk menjadi teman kopi.

“Be, kopi satu ne.” Arung mengacungkan tangannya kearah Sebe yang sedang duduk menikmati sebatang rokoknya.

Dan Sebe pun segera bereaksi ketika mendengarnya. Lalu dengan sedikit tergesa-gesa, Sebe mendekat ke arah kami. Dadaku berdebar tak karuan. Jelas aku memanjatkan doa agar Sebe memilihku untuk menemani Arung. Sungguh aku sangat ingin menemaninya. Melewati sejengkal waktu dengan dirinya, meresapi pagutan bibirnya yang akan menghangatkan bibirku. Melompati pagi dengan bercumbu. Sungguh aku sangat ingin dipilih saat ini.

Sebab hanya itu doaku sepanjang malam sebelum pagi merampas bulan dari pandangan kami.

Andre Barahamin