Diari Segelas Kopi: #04

Senin, 15 Oktober (tahun sekian)
13.21 WITA

 

“Oi Fritz, bagemana tentang tong dua pe cirita tu hari ?”

Dia menegur sosok berambut gondrong itu. Manusia berpakaian hippies yang tampaknya telah mengikat janji terlebih dahulu dengannya. Sebentuk manusia yang dulu telah sempat menggariskan bait-bait cinta dalam hatiku sebelum dia sendiri dengan sengaja menghancurkannya. Menghancurkan rasa itu tanpa sedikit rasa sesal ada padanya.

Manusia yang kuanggap pada awalnya mampu mengerti tentang apa yang mereka sebut dengan cinta. Namun tidak. Sama sekali tidak. Fritz tak sedikitpun mengerti tentang cinta. Dia hanya sibuk tentang cita-citanya untuk membangun kota ini menjadi sebuah tonggak seni atau apapun itu. Dan aku tak mau lagi tahu walau hanya setitik tentang Fritz. Tak akan lagi.

Dia telah lama kubunuh dalam hatiku. Dia tak lagi mendapatkan ruang sekecil apapun dalam hatiku. Karena kini, telah ada yang kuberikan mandat sepihak sebagai pemilik sah hati ini. Dan aku sangat yakin kalau dia jauh berbeda dengan Fritz. Dia pasti sosok yang akan menjawab tanya dari sekian lama penantian. Oase dari dahaga hati ini.

“O itu. Iyo. Qta so bakudapa deng Grace. Kong dia so io. Jadi mungkin beso ato lusa nanti tong dua pigi pa dia di Tomohon kong ba crita lebe lanjut. Dia le so suka skali mo bakudapa deng ngana.”.

Grace ? Ada perempuan lain yang ingin Arung jumpai ? Apa Arung telah mempunyai kekasih ? Dan apa perempuan itu bernama Grace ?
Arung tersenyum ringan mendapat jawaban dari Fritz. Sepertinya memang, hatinya sungguh senang mendapatkan kabar itu. Berita bahwa dia akan segera berjumpa dengan Grace. Bersua dan bertatap wajah. Saling menukar pandangan mata, bercerita panjang lebar.

Arghhhhhhhhh.

Arung tak pernah sekalipun melakukan hal itu denganku. Tapi kini, Fritz malah membiarkan hitam bola mata itu singgah diwajah perempuan lain. Membiarkan senyuman itu dibingkiskan kepada perempuan lain. Membiarkan kata-katanya yang pasti berisi rayuan merdu menjadi milik perempuan lain.

Apa mungkin ini adalah balas dendam Frtiz setelah aku memutuskan untuk meninggalkannya ?

Fritz membalas disertai senyuman yang bagiku lebih tepat dikategorikan sebagai sebuah cengiran. Apalagi rokok yang terjepit paksa di giginya membuatku sedikit muak melihatnya. Ditambah lagi, buku tebal yang di pangkuannya langsung tak mendapat perhatiannya. Sungguh Fritz sangat egois. Sangat egois.

Buku yang sedari tadi menemaninya dalam diam, dalam sunyi, dalam upaya melompati waktu, kini hanya dibiarkan teronggok kasar diatas meja. Tepat di hadapanku.

Aku memang sial. Aku ditugasi Sebe untuk melayaninya. Bertahan dari hisapan bibirnya yang sungguh menjijikkan. Sungguh menjijikkan. Bibir yang dulu sangat kuharapkan satu kalimat terlontar darinya. Hanya satu kalimat saja. Bahwa dia juga mencintaiku.

Tapi penantian dan harap itu dipencundangi Fritz dengan sengaja. Membiarkan aku sendiri kemudian mengambil simpulan atas sikapnya. Sikap yang baginya telah memuat jawaban yang kunanti-nantikan sejak lama.

Namun ini adalah konsekuensi dari pekerjaanku dan aku harus bersikap profesional, yang berarti aku harus diam dan tak mengeluh.
Ini mungkin adalah karma bagiku setelah tadi menertawakan kawanku yang kebagian shift pertama untuk melayani bibir Fritz. Mungkin inilah yang disebut dengan hukum karma.

“Bagemana kalo hari ini jo. Pas tre qta ada lowong, jadi tong dua jo kasana sabantar sore. Bagemana ? Bole to ?”

Dengan sedikit nada memburu, kekasih tak resmiku ini membalas Fritz.

Dia memang tlah kuanggap sebagai kekasihku meski hanya dalam persepsiku secara sepihak. Namun aku membenarkan ini sebagai sebuah upaya untuk melangkah ke tahap yang lebih serius dengannya.

Namun kini dia sepertinya begitu bersemangat untuk berjumpa dengan perempuan lain. Rasa sabarnya seakan telah pupus. Apa perempuan itu sungguh cantik layaknya bidadari sehingga Arung seperti kehabisan nafas dan akan mati kalau hari ini juga tak bersua dengannya ?
Ataukah Arung telah dipelet oleh perempuan itu sehingga begitu rela menukar waktunya hanya agar bisa mendengar satu kata saja dari perempuan itu ?

“Bole no. Pas le sabantar Girun mo singga pa qta. Jadi tong tiga jo kasana sama sama.”

Mereka pasti akan kesana. Menuju kediaman perempuan misterius yang telah mencuri perhatian Arung yang seharusnya menjadi milikku.
Dan Fritz bertanggung jawab atas semua kejadian ini. Pasti dia yang menjembatani pertemua ini. Dan ini berarti, Fritz menabuh lebih keras lagi genderang perang antara kami. Fritz telah dengan sengaja melahirkan permusuhan denganku.

Aku membenci Fritz !!! Sangat benci !!!

“Deng qta le. Qta le suka mo ka sana. Mo ba baca.”

Terdengar suara dari belakang. Dipanah oleh laki-laki ceking dengan kaos berukuran junkies namun tetap kelihatan kedodoran ditubuhnya. Dan orang ini ku kenal. Dia adalah Joe. Salah seorang penyair lain yang termasuk pelanggan tetap di kedai ini. Namun ada satu hal yang sangat kubenci darinya. Sikap tak sopannya.

Pernah suatu ketika, dia begitu saja datang dan menyambar bibirku tanpa rasa berdosa, padahal saat itu aku sedang melayani tamu yang lain. Dan sikap tak tahu adat ini tak hanya berlangsung sekali saja, namun berulang kali. Dan bukan hanya aku yang jadi korban keganasannya. Banyak juga dari kawan-kawanku yang menjadi sasaran empuknya.

Meski kuakui memang, Joe dan Arung adalah sahabat baik, namun tetap saja itu tak bisa diajadikan garansi bahwa dia punya hak untuk menyerobot dan seenak perutnya bertingkah.

Pernah suatu kali aku mengadukan hal ini pada Ajus agar melaporkannya pada Sebe dengan tujuan agar Sebe saja yang menegurnya. Tapi jawaban yang kuterima sungguh mengecewakan.

“Itu so dorang pe kebiasaan. Kan dong pe ba tamang so bagitu. Jadi nyanda ada masala sepanjang dorang tatap bayar.”

Itu jawaban dari Sebe pada Ajus yang sempat kudengar. Aku memang sering sekali menguping karena aku tak ingin mendengar sebuah kisah dari pihak kedua atau ketiga. Itu bisa jadi sangat berbahaya, karena akan disangka kitalah biang gosip. Dan dituduh menjadi biang gosip itu sungguh tak mengenakkan.

“Brarti ngana deng Arung nae satu motor, nanti qta deng Girun nae motor yang laeng.” Fritz menimpali.

Oh Tuhan. Nafasku hampir tercekak. Aku sungguh tak percaya dengan pendengaranku. Aku sungguh tak percaya. Masih bimbang dengan kenyataan yang kini ada di hadapanku.

Arung tetap berkeras untuk menemui perempuan itu ? Tanpa sedikitpun memikirkan perasaanku yang kini jelas telah tercabik-cabik ? Dan perselingkuhan ini ikut direstui oleh Joe dan Girun ? Kenapa Girun juga ikut mengkhianatiku ?

Padahal ia tahu Arung adalah pria yang selama ini telah mencuri mimpi dari tidurku. Telah menundukkan pesona bulan dan menggantikannya dengan sebuah tarikan nafas yang dengan berani kudeklarasikan sebagai cinta.

Belum lekang dari ingatku saat Girun pertama kali menjamahku. Waktu itu, aku adalah pegawai baru dikedai Sebe Manus ini. Masih sangat muda dan belum berpengalaman soal melayani tamu. Dan Girun adalah pelangganku yang pertama. Sebe menugaskan aku untuk menemani laki-laki bertubuh gempal dan berambut gondrong itu.

Aku yang masih malu-malu bahkan hanya untuk sekedar memberi sapaan sebagai basa basi keramah tamahan ala orang Timur hanya mematung didepannya. Untuk bergerakpun kurasakan tulang-tulang tubuhku telah mengeras dan menjadi sangat sulit untuk sekedar bergeser.
Gugup dan rasa was-was berbaur ketika Girun mendekapku erat-erat lalu menarikku kedalam dekapannya. Dan dengan pelan-pelan, bibirnya menyentuh bibirku. Mengulum untuk beberapa saat, lalu menghempaskan desah nafas yang belum kupahami maksudnya.

Itulah saat pertama aku kehilangan keperawananku di tangan orang yang hingga saat ini tak pernah kucintai, namun kuhargai sebagai seorang kakak.

Girun mendapatkan tempat khusus dihatiku, karena dia memperlakukanku dengan hormat. Dia seperti mengerti tentang rasa takut dan bingung yang berkecamuk dikepalaku. Karena itulah, sampai hari ini aku tetap menganggapnya sebagai kakak.

Sampai kemudian kudengar kalimat Fritz. Dan aku masih tak percaya. Tak masuk di akal sehatku. Seorang kakak, justru lebih memilih untuk membiarkan hati sang adik terluka.

“Ator jo. Yang penting tong ta pigi. Itu depe inti.”

Joe menimpali. Menegaskan kepastian mereka berempat untuk menuju kuburan hatiku.