Diari Segelas Kopi: #03

Senin, 15 Oktober (tahun sekian)
09.42 WITA

 

Masih pagi tapi aku sudah cukup merasa lelah setelah selesai melayani satu orang tamu tadi. Padahal kemarin aku sudah beristirahat cukup. Apa karena ada sesuatu yang kurang di kedai ini pagi ini ? Aku memang sering mendengar kalau kondisi psikologi juga bisa mempengaruhi stamina tubuh saat bekerja. Meski tubuh berada dalam kondisi prima namun bila tak ditunjang dengan kondisi kesehatan psikologi, maka bisa dipastikan kalau ia akan kelihatan sakit. Cepat lelah dan emosi tak stabil. Dan sepertinya, aku sedang mengalami hal itu.

Aku merasakan sepi di tengah keramaian kedai ini, karena orang yang sedari tadi ku tunggu untuk datang belum juga kunjung muncul. Dan hati inipun disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengejar jawab. Sungguh menyesakkan. Aku seperti berada di tengah badai gelombang laut yang dengan tega mempermainkan bidukku. Aku terombang ambing tanpa sauh dan arah tujuan.

Liar mataku terus menjelajahi seisi ruangan kedai ini. Berharap dalam keliaran pandangan ini, aku bisa menemukan sebentuk wajah yang kini begitu kurindukan. Begitu kuharapkan. Meski kadang ragu dan cemas sering menghantui bahwa mungkin saja dia tak akan datang. Mungkin hari ini dia absen menjengukku.

Sebetulnya bukan menjengukku, karena dia belum mengenalku. Belum mengenal perasaan dalam hatiku yang terus bekecamuk tak tentu arah ketika aku mendapati bayangannya menuang langkah memasuki ruangan ini. Seakan bahwa dalam kedai ini, aura tubuhnya hanya datang untuk menyapaku. Hanya untuk menjengukku. Hanya untuk datang padaku dan sekedar mengucapkan selamat pagi. Hanya selamat pagi. Sungguh hanya itu yang kuharapkan keluar dari bibirnya.

Namun kali ini, bukan lagi Fritz yang kuharapkan datang. Aku telah dengan sengaja membuang rongsokan harapanku yang tak kunjung di mendapat balasan terhadap Fritz kedalam keranjang sampah memoriku. Aku tak ingin lagi hidup dan dengan sengaja berkubang dalam lumpur penantian. Aku bosan.

Bukan karena aku dikarunia hati yang cepat berpaling, namun memang ada getaran lain dari sosok ini yang kurasa telah mampu merebut mimpiku. Membuatku merasa sebagai yang paling beruntung di dunia, jika benar dia mampu mengerti apa yang sedang kurasakan tentang dia.

Setiap kali ada orang yang datang, aku akan dengan sengaja langsung mengalihkan pandanganku kearah itu. Berharap dan hanya bisa terus berharap, bahwa kali ini, dia yang datang. Namun setiap detik yang berlalu dengan hampa membuat benteng kesabaran penantianku mengendur secara perlahan namun pasti. Luluh seperti es yang ditimpa dengan sengaja sinar terik mentari yang kejam menghujam.

“Tuhan, andai benar kau bisa mendengar keluhku, kuingin dia hari ini datang. Tak perlu harus memberi sepucuk suara bagiku. Cukupkan saja dengan kedatangannya. Hanya itu.”

Kutengadahkan wajahku ke langit. Memanjatkan doa kepada yang empunya kuasa untuk mengabulkannya. Walau dengan dibumbui sedikit ragu dan setumpuk ketidak yakinan, tapi jauh di sudut hatiku aku menyadari bahwa hanya inilah satu-satunya solusi yang bisa kutempuh. Sekedar meredakan ketegangan ini. Hanya itu. Lagipula sekarang aku harus memusatkan konsntrasi pada Joe yang sekarang di depanku.

Meski aku ingin menolak, tapi percuma karena Sebe Manus jelas tak akan mau mendengar apapun alasanku. Entah sial apa, Joe yang sangat kubenci kini harus kulayani. Membiarkan mulutnya untuk kemudian dengan liarnya mengulum dan mencumbuku.

Meski kuakui, Joe tidaklah terlalu jelek jika kemudian dibandingkan dengan wajah-wajah para model pria yang sering jadi sampul halaman majalah-majalah terkenal. Atau dengan kata lain, Joe lumayan tampan.

Rambutnya lumayan rapi. Meski itu tak diimbangi dengan padanan celana jeansnya yang sobek di kedua lutut kakinya. Seperti bekas digigit anjing menurutku. Tak beraturan. Ditambah lagi dengan warna jeansnya yang sudah kumal karena mungkin tak pernah dicuci, menjadi nilai minus penilaianku padanya.

Kaos-kaos yang dipakainya juga tak ketinggalan mode. Cukup funky menurutku. Joe jelas lebih paham bagaimana berdandan ketimbang Fritz yang gagap mode. Pilihan warnanya juga menyimbolkan kalau dia maskulin yang punya selera cukup berkelas. Jadi tak heran kalau kemudian, ada perempuan yang takluk hatinya.

Ia. Joe punya kekasih. Namanya Titi. Anak semester tiga di jurusan Inggris. Perempuan atraktif, komunikatif, supel dan aktif di kelompok teater yang sama dengan Joe dan tentu saja Arung sang penjaga lentera hatiku.

Kalau tak salah dengar, Titi adalah pimpinan mereka yang baru. Menggantikan Joe yang usang masa kerjanya. Melanjutkan kerja-kerja yang pernah tertunda diwaktu sebelumnya, ataupun menggagas dan melaksanakan program baru yang update.

Titi dengan semangat barunya, menggantikan Joe yang notabene adalah pacarnya sendiri yang semakin lelah dengan himpitan beban kuliahnya yang tak kunjung selesai. Padahal Joe telah menghabiskan hampir tujuh tahun di fakultas ini menimba ilmu. Jadi, Joe butuh ruang bernafas agar bisa konsentrasi penuh mengejar ambisi orang tua yang ingin melihat anaknya sarjana.

Namun, saat ini Joe malah duduk santai di kantin berdikusi sambil sibuk melumat bibirku tanpa merasa berdosa sedikitpun. Tanpa ada ganjalan, dia terus saja memperkosaku secara sadar. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa selain ikut menikmati pemerkosaan ini berlangsung.
Padahal kalau seandainya saja aku yang punya kuasa terhadap tubuhku ini, aku hanya akan membiarkan orang yang paling aku sayangi yang bisa menjamahnya. Hanya orang yang telah memiliki cinta dan hatiku yang kemudian bisa dengan sepuas hatinya menciumiku. Kapan saja dan dimana saja, aku takkan peduli.

Namun sampai sekarang, aku hanya bisa bermimpi saja. Aku tak punya kuasa sedikitpun terhadap diriku. Persis yang dialami oleh banyak perempuan lain yang kemudian terjebak dalam dunia hitam pelacuran. Aku sering mendengar kalau kotaku ini termasuk kategori penghasil wanita-wanita malam. Bisnis ini bahkan telah merambah sampai keluar daerah.

Akupun sedikit tak percaya kalau ternyata, banyak perempuan Manado yang kemudian dikirim ke Papua hanya untuk menjadi budak seks. Menjadi properti dari skenario permainan besar hasil karya para lelaki hidung belang tak tahu malu, manusia-manusia tanpa perasaan.

Dan Joe kuanggap sama seperti itu. Meski memang tak separah para germo ataupun para pembeli jajanan seks itu. Tapi kelakuannya yang menyerobot kopi orang adalah kebiasaan yang dimataku sangatlah buruk. Apapun alasannya.

Itu juga menjadi salah satu alasanku sering jijik kalau dia mengulum bibirku. Karena aku tak tahu sudah berapa bibir lain yang telah disinggahinya sebelum bibir sundalnya itu menghampiriku. Menitipkan setetes ludah yang mungkin sudah terjangkit virus penyakit yang mematikan.

Meski harus jujur kuakui Joe juga punya bibir yang seksi. Tapi tak akan mengalahkan keseksian bibir kekasihku. Joe juga beruntung karena dia punya orang yang memberi dirinya sebagai tambatan hati. Dan yang paling penting adalah mereka berdua berprofesi sama. Sama-sama seniman.

Telah dapat kubayangkan betapa menyenangkan mendapatkan pasangan yang mempunyai pekerjaan yang sama, dan jelas akan mengerti bagaimana seluk beluk pekerjaan kita. Telah ada orang yang siap setiap saat untuk membantu saat kesusahan tiba-tiba mampir dan memberikan salamnya meski tak diharapkan.

Dan aku, dalam setiap mimpiku di senyap malam berjanji bahwa jikalau nanti aku telah resmi berpacaran dengan dirinya, aku akan belajar untuk mengerti bagaimana ritme kehidupannya. Agar aku bisa kelak menjadi pendamping hidup yang selalu menemani dalam susah maupun senang. Sosok yang akan selalu mampu mengerti dirinya, cita-citanya, keinginannya dan kegiatan-kegiatannya yang harus dijalani sebagai resiko dari sebuah proses untuk menggapai impian.

Andre Barahamin