Diari Segelas Kopi: #02

Senin, 15 Oktober (tahun sekian)
11.15 WITA

 

Belum terlalu siang, namun cuaca sudah cukup menyengat. Panas yang kemudian memaksa keringat untuk menampakkan diri, membasuh tubuh manusia yang mulai lupa dengan alam sekitar. Gerah yang menjadi tamparan terhadap ego manusia yang selama ini mendapatkan tempat terhormat dalam ide dan tindakan manusia-manusia ceroboh. Manusia-manusia yang bertingkah lebih buruk dari binatang. Makhluk yang diberi karunia otak tapi sering luput menggunakannya.

Air untuk membasuh piring dan gelas kotor di dua buah loyang plastik hitam yang terletak di tempat cuci piring di samping kedai Sebe Manus sudah menghangat terkena sapa kasar sinar mentari. Beberapa piring kotor nampak sedang teronggok lesu. Ada beberapa pasang sendok dan garpu yang juga terkapar di situ. Ini tanda, sudah ada beberapa orang yang sudah melakukan rutinitas makan siang. Sebuah desakan biologis yang mau tak mau harus dipenuhi sebelum berakibat buruk bagi kesehatan.

Walau memang harus diakui, kadang menu di sini sering asin karena kelebihan takaran garam. Ajus yang adalah juru masak tunggal di kedai ini memang sudah agak rabun. Namun hal ini tetap tak kuat menjadi alasan untuk membuat orang-orang berpaling. Tak cukup menjadi landasan untuk kemudian menggusur mereka dari tempat ini. Memisahkan mereka dari balutan memori dan kenangan yang tak mampu dibeli dengan uang. Menukar nuansa kekeluargaan di kedai ini hanya demi sekecap rasa, sepertinya tak mungkin dilakukan oleh orang-orang ini.

Meski harus diakui, banyak suara-suara yang mengajukan protes lisan kepada Ajus tentang masalah ini. Tapi semua kritik ini dilakukan bukan untuk menunjukkan pemberontakan semata lalu lari berpaling ketika perubahan itu sendiri hadir di depan mata. Namun sebagai ekspresi paling minimal dari rasa sayang dan memiliki mereka terhadap kedai ini. Kedai yang dalam takar logikaku, telah mencuri separuh hati mereka. Kedai yang mampu menawarkan damai ketika dunia disekitar mereka semakin beringas dan brutal. Kedai yang hadir meramaikan hari saat semua manusia lebih sibuk menjadi individualis. Kedai yang mengusir sepi dan menawarkan kebersamaan. Hal yang sekarang sungguh menjadi langka layaknya berlian atau sejenisnya.

Karena selain kopinya yang bercita rasa tinggi dan mempunyai rasa yang khas, kedai ini satu-satunya kedai di seluruh universitas ini bahkan sampai ke seantero fakultas Sastra yang menyediakan arena bertarung bagi para jagoan catur. Para ksatria-ksatria di atas bidak yang memeras otak dan tenaga untuk beradu strategi. Saling tempur untuk sekedar sebuah tawa ringan kemenangan sesaat yang membantu sejenak lupakan betapa hidup mereka telah sering dipecundangi sistem buatan para tuan besar berdasi yang hanya sibuk jalan-jalan ke luar daerah atas nama pembangunan.

Tak tanggung-tanggung. Ada tiga buah papan catur yang bisa dipinjam kapan saja tanpa harus mengeluarkan biaya sepeserpun. Menjungkir balikkan keadaan umum, dimana kini semua hanya dihargai dengan uang. Semua kini telah ditentukan harganya. Komersialisasi dalam titik ekstrim seperti saat ini terhadap semua sendi hidup yang tentu saja membuat orang berkecenderungan untuk gila. Hidup dalam tekanan psikologis yang hanya berakar pada permasalahan materi.

Dan tak hanya mahasiswa, para dosen bahkan sang dekan yang terhormat dan disegani sekalipun sering terlibat dan ambil bagian dalam turnamen sarat gengsi ini. Sarat akan prestise sederhana. Hanya sebuah pengakuan, ataupun sedikit ledekan bagi yang dihampiri kekalahan. Dan setelah itu, pertarungan kembali dilanjutkan dengan ditemani segelas kopi dan beberapa batang rokok dapat dibeli di kedai ini karena Sebe menyediakannya sebagai karib bagi kopi kentalnya. Kopi khas yang di impor dari Kotamobagu Totabuan yang mempunyai rasa yang unik.

Kopi yang pada masa kegemilangannya sempat membuat orang-orang Eropa tergila-gila untuk datang dan berlomba menguasai tanah ini. Menduduki secara paksa tanah di sepajang utara Celebes ini demi memenuhi obsesi dan kegilaan merkantilisme mereka. Memaksa makatana untuk menanam kopi sebanyak mungkin agar bisa dijual dipasar dunia. Mengarahkanparit-parit uang ke kantong mereka dan menyisakan warisan derita berkepanjangan hingga saat ini.

Beberapa temanku sering kebagian untuk menemani para pecatur amatir ini. Dan kalau Sebe Manus tak datang menyelamatkan, ini bisa memakan waktu yang sangat lama. Kadangkala, hingga waktu untuk kedai kopi tutup.

Saat ini, sudah cukup banyak orang yang datang dan memenuhi dua buah bangku kayu panjang serta beberapa kursi kayu yang memang khusus disediakan bagi para pembeli. Walau pada kenyataannya bangku panjang tua ini tak hanya dihinggapi oleh para pembeli, namun juga orang-orang yang hanya ingin sekedar menghalau waktu. Ada yang duduk berbincang, ada yang sibuk menulis, ada yang sibuk membaca, ada yang terpaksa berdiri karena tak kebagian tempat untuk sekedar menyandarkan bokongnya. Kalaupun sudah ada datang dan tidak kebagian tempat duduk maka satu-satunya cara adalah dengan hilir mudik. Sepertinya sibuk dengan urusan masing-masing. Semua langsung menceburkan diri dalam padatnya aktivitas. Entah berhubungan dengan tugas perkuliahan, janji percintaan, info sepakbola tadi malam ataupun hal penting lainnya yang aku sendiri tak tahu apa lagi itu. Lagipula memang bukan tugasku untuk mencari tahu apa saja kegiatan semua mahasiswa di kampus ini.

Dan ada satu laki-laki yang sejak pertama kali bertemu telah begitu menarik perhatianku selain Fritz yang kini menghuni lubuk hatiku. Dia dan tindak tanduknya yang sungguh membuatku merasa diperlakukan secara terhormat, merasa mendapatkan perhatian yang selama ini kuharap, kudapatkan dari Fritz.

Selain memang harus kuakui ia punya wajah yang memang termasuk kategori tampan, ia juga dalam pengamatanku termasuk orang yang pintar dan juga disegani. Contohnya adalah ketika ia harus menghadapi pertanyaan demi pertanyaan dari beberapa orang yang belum kukenal.
Misalnya saat ini. Apa yang sedang ia bicarakan dengan seorang temannya yang tampak serius mendengarkan cukup menarik telingaku untuk mencuri dengar walau kusadari itu sungguh tak sopan. Meski sesekali konsentrasi pandangan temannya itu agak terganggu dengan begitu banyak perempuan cantik yang melewati kedai Sebe Manus ini.

Rambutnya tidak terlalu panjang juga tidak terlalu pendek. Aku kenal dia meski tidak pernah bertukar sapa sekalipun. Aku sendiri sering terlalu sibuk bekerja. Meski juga ada sedikit rasa enggan yang dibalut malu untuk memulai dan menggagas perkenalan dan mempelopori dialog. Karena aku jelas tak mau dianggap sebagai perempuan murahan karena bertindak lebih agresif. Dalam hal-hal seperti ini, aku masih tetap mempercayai nilai konservatif itu. Perempuan harus menunggu.

Ia terhitung pelanggan tetap di kedai ini. Kadang-kadang saat masih sepi, ia sudah ada di situ. Ketika mentari baru saja memancarkan teduh sinar paginya, dan bunga-bunga masih dijebak sedih karena di tinggal embun, laki-laki ini telah ada di sini. Memesan kopi dan dua batang rokok lalu duduk menulis sesuatu. Mungkin puisi, cerita, catatan harian atau semacamnya.

Tapi aku sangat yakin, kalau dia adalah seorang penyair. Dan ini berarti dia gemar menulis puisi. Karena dari beberapa waktu lalu, ia baru saja meluncurkan kumpulan puisinya bersama kedua kawannya yang lain di kedai ini.

Kedua kawannya juga termasuk pelanggan di kedai ini, tapi tak sesering dia. Hampir setiap hari dia tak pernah absen untuk minum kopi disini. Sayang, aku belum pernah kebagian tugas dari Sebe Manus untuk melayaninya. Padahal bibirnya yang merah kehitaman sungguh seksi bagiku. Ditambah lagi dengan hidung mancungnya yang kalau tak salah, merupakan peninggalan dari darah orang Eropa Portugis yang membasahi nadinya dan kedua bola matanya yang setajam taring macan gunung sungguh akan membuat banyak perempuan siap dan memberi diri untuk dipandangi selama mungkin.

Juga pasti akan sangat romantis, ketika membacakan puisinya di telingaku. Membisikkan. Ya membisikkan. Aku ingin dibisiki puisi-puisinya yang bercerita tentang betapa ia sangat mencintaiku. Karena ketika dia menjadi milikku dan aku jadi kepunyaannya, dia akan mengabdikan maha karya pahatan katanya hanya untukku. Aku yakin. Sangat yakin.

Aku ingin merasakan suatu saat nanti, bagaimana rasanya dikulum oleh bibir itu setiap saat. Lidahnya merasuki jiwaku dan menemaniku dalam perjalanan menuju nirwana yang sampai sekarang belum juga kukunjungi. Dan mata elang miliknya itu menjelajahi seluruh lekuk tubuhku. Menelusup setiap bagian tanpa terlewatkan. Menelusuri lebih dalam ketelanjanganku ini. Berekplorasi sampai titik dimana pencarian itu sungguh telah usai. Karena dia telah menemukan semua kerinduan saat pengelanaanya hanya ada dalam diriku. Sungguh aku rela menukar apapun agar keinginanku ini bisa tercapai.

Meski ini tak mungkin, namun aku percaya bahwa dengan memelihara harapan tentang sesuatu yang tak mungkin, kita sebenarnya sedang bermetamorfosa ke sebuah tingkat yang lebih lagi tentang sebuah arti kesabaran dan penantian.

Sosok ini punya satu ciri khas yang cukup aneh dalam pandanganku. Yaitu selalu menggunakan sweater sport berwarna biru meski kadang udara justru sangat panas. Ia tak pernah kelihatan gerah. Wajahnya justru selalu nampak tenang dan tegas. Malah itu makin memperkuat aura ketampanan yang terpancar dari dalam dirinya. Sungguh seorang lelaki idaman. Sayang ia perokok berat. Karena tak putus-putusnya kulihat ia membeli rokok pada Sebe saat minum kopi. Tapi tak apalah. Toh itu tak mengurangi kekagumanku padanya.

“Mick, ngana musti parcaya diri. Qta yakin ngana punya potensi. Ngana bole. Ngana ada kemampuan. Cuma itu samua musti ditunjang deng ngana pe kepercayaan diri. Ngana musti yakin. Karna kalo nga sandiri so nyanda yakin pa ngana diri, bagemana orang bole mo parcaya pa ngana ? Contoh, biar ngana pe lukisan pe bagus, mar kalo ngana nyanda pede, orang nyanda akan perna dapa lia depe bagus. Bukang berarti lantarang ngana muda, kong ngana langsung bilang ngana nyanda bisa. Itu banci bos.”

Ia berhenti sejenak. Menarik dalam-dalam rokoknya dan meneguk kopinya. Temanku yang kebetulan ditugasi untuk melayaninya melempar senyum penuh kemenangan ke arahku. Memang di tempat kerja kami ini sudah hampir semua rekan kerjaku sudah tahu kalau aku mengagumi laki-laki ini, kecuali Sebe dan Ajus. Dan sungguh aku tak mau dan tak pernah ingin kalau-kalau mereka sampai mengetahui hal ini. Ini bisa menjadi aib. Pelayan kedai jatuh cinta pada seorang pelanggan setia.

Angin berhembus pelan, menampar lembut tubuhku yang kini sedang dalam genggam erat seorang pria lain yang tak kukenal namanya. Sedang hanya beberapa depa dari situ dia sama sekali tak memperhatikanku. Dia sungguh tak mengganggapku ada. Dia tak menyadari bahwa kedua bola mata ini sedari tadi takkan sedikitpun melepaskan pelukannya. Dia tak mengerti bahwa senyuman ini kuberikan untuk dirinya. Hanya untuk dirinya seorang.

“Pokoknya qta nimau dengar ngana pe alasan konyol itu. Ngana justru musti se bukti pa orang-orang yang pandang enteng pa ngana, kalo ngana itu bole. Ada kemampuan. Ada kelebean. Kalo ngana menyerah skarang, brarti parcuma dang skian lama qta kurang nyanda mo malintuang se yakin pa ngana kalo ngana ini bole.”

Nafas panjang seperti isyarat lelah yang menggumpal keluar kasar dari hidungnya. Sedang laki-laki lain yang menjadi lawan bicaranya tampak tertunduk memandangi ubin yang penuh puntung rokok dan sampah-sampah yang lain. Seakan di sana ada jawaban untuk sekedar menguatkan hati bahwa ini pilihan ini tak salah.

“Pokoknya ngana pikir-pikir lagi no. Mar qta yakin, qta, Ran deng Ipunk pe pilihan for pilih ngana for ba pimpin torang pe komunitas ini nyanda salah. Qta skarang bukang so merasa jadi senior ato yang paling tau dari pa ngoni samua. Cuma lantarang qta ba lia kalo ngoni di situ so bole for mo ba urus ni komunitas. Jadi qta skarang so ada waktu lebe for mo ba bangun sanggar di tampa laeng. Karna qta suka mo lia banya anak muda yang ada potensi di bidang seni dapa dorang pe tampa. Ada ruang for mo ba kreasi. Sama deng torang skarang. Mar sama jo deng nol basar kalo qta sukses beking sanggar baru mar tu sanggar yang qta se tinggal malah ancor ta piong-piong. Kalo yang jadi nga pe alasan itu lantaran nga nyanda mampu rupa qta, jelas ngana butul. Karna torang dua itu orang yang berbeda. Ngana nimbole jadi sama deng qta, deng nyanda akang perna sama. Ngana harus jadi ngana pe diri sandiri baru mo sukses. Kalopun ngana sukses tiru deng jadi persis qta, orang nyanda akan mo dapa lia Micky. Orang justru mo dapa lia qta. Ngana suka mana, orang hargai pa ngana lantarang ngana memang ada kemampuan, ato lantaran qta ? Itu ngana yang pilih sandiri depe jawaban.”

Panjang dan menusuk. Laki-laki yang berada di depannya terdiam lagi untuk kesekian kali. Sedang dia melempar pandangnya ke beton putih di depannya. Entah melihat apa, karena jelas tak ada yang layak disebut pemandangan di beton putih itu. Dan kepulan asap rokok kembali dihembuskannya keluar seperti ingin mengusir kesal dan lelah agar tak datang lagi mengganggu. Sejauh mungkin mereka harus pergi dan akupun setuju. Karena aku juga tak ingin melihat wajahnya dipenuhi risau yang mendalam oleh apapaun. Dan di saat-saat seperti inilah aku ingin menjadi teman untuk berbagi beban dukanya. Sekedar saja agar tak ia merasa sendiri hidupnya sendiri di dunia. Aku seperti ingin menegaskan keberadaanku padanya. Inginku yang kini sudah membuncah menjadi sebuah obsesi. Sebuah mimpi yang kini mencapai tahap meditasi paling sempurna.

“Ini trakir kali qta ulang pa ngana. Ngana ini bole. Tapi skarang itu tergantung depe keputusan pa ngana. Kalo ngana menyerah, telpon ato sma pa qta for se tau. Mar kalo ngana mo trus, karja jo bae-bae. Karna pimpinan itu musti jadi teladan for depe tamang laeng. Tamang-tamang butu mo lia ngana juga karja sama-sama bukang cuma banya mulu baprotes deng baator abis itu lari setinggal orang laeng yang karja. Tamang-tamang masi butu ngana for mo ba arahkan pa dorang. Deng masi banya orang diluar sana yang suka mo berkarya sama deng torang, mar bulum dapa dong pe ruang. Jadi kalo ngana serius urus ni komunitas, brarti ngana so iko ba bantu pa banya orang supaya ni seni bole lebe banya ta sebar. Mar kalo nyanda, brarti slama ini qta so sala nilai orang. Karna qta tau, Micky yang jadi qta pe tamang itu, depe orang suka mo maju en brani mo blajar hal-hal baru, nyanda gampang menyerah, deng selalu bole di andalkan.”

Dia berdiri, lalu dengan kasar mengulum untuk terakhir kalinya bibir kawanku yang kuanggap beruntung ditugaskan Sebe untuk menemaninya kali ini. Menghabiskan kopinya lalu beranjak pergi. Padahal tak pernah ia pulang sebelum sore tiba. Dia selalu berada di sini hingga kedai ini tutup. Tapi kenapa kali ini dia pergi begitu cepat ? Apa dia terlalu kesal sehingga memutuskan pulang? Apakah lawan dialognya itu telah mengecewakannya ? Apakah memang sungguh begitu berat beban yang menghimpit dadanya sehingga bahkan rongga untu bernafas sedikitpun tak disisakan ? Apakah memang seluruh tumpuannya kini sedang goyah ?

Ataukah dia memang harus pulang karena terlalu banyak janji dan mimpi yang menunggunya untuk segera diwujudkan ? Dan apa mungkin aku termasuk salah satu mimpinya ?

Andre Barahamin