Diari Segelas Kopi: #01

Senin, 8 Oktober (tahun sekian)
12.39 WITA

Aku sudah muak menghadapi orang-orang ini. Walau aku sadar ini adalah resiko dari pekerjaanku sebagai pelayan di kedai kopi ini. Dan semua mempunyai konsekuensi yang harus dibayar, namun aku tak menyangka akan segila ini. Ini adalah kelakuan binatang, bukan kelakuan makhluk yang katanya mempunyai akal dan budi pekerti.

Tak ada tata krama, tak ada sopan santun, tak ada norma, tak ada kewajaran, tak ada kewarasan. Tak ada sama sekali. Dan mereka dengan berani kusebut gila, tak bermoral, tak beradab, keji, dan tak layak disebut manusia.

Manusia-manusia ini dengan seenak perutnya datang dan singgah sejenak, mencumbuiku, lalu beranjak pergi seakan tak bersalah. Padahal setahuku, Sebe hanya menugaskan aku untuk melayani satu orang saja. Dan sialnya, sosok yang telah membookingku belum juga menyentuhku.
Sosok dengan jaket turtle neck sport biru yang terus melekat ditubuhnya meski udara siang ini cukup panas. Dialah yang memesan kopi pada Sebe. Dan aku, hanya ditugaskan untuk menemaninya. Hanya dia seorang. Ini berarti, hanya dia yang bisa menyentuh bibirku.

Tapi, belum sempat dia mencumbu bibirku, aku justru harus berhadapan dengan kenyataan yang sungguh berbalik arah. Aku menjadi tambio saat ini juga saat bibirku dengan buas dimangsa oleh mereka secara bergantian. Dan tanpa perasaan, mereka tak sedikitpun mempedulikan perasaanku. Aku diacuhkan begitu saja tanpa arti dihadapan bangsat-bangsat ini.

Kecuali dia. Dia yang dengan lembut memelukku, lalu mengantarku kepada Sebe setelah tugasku dianggap selesai. Selesai melayani dengan berat hati para sahabat-sahabatnya yang berkelakuan binatang. Dan dibalik air mataku yang tak dapat dilihat menggenangi, dia berbalik meninggalkanku dalam dekapan Sebe. Kembali bergabung dengan kumpulan manusia-manusia berdosa tanpa aturan itu. Manusia barbar.

Andre Barahamin