Diari Segelas Kopi: #00

Rabu, 17 Oktober (tahun sekian)
08.13 WITA

Pagi ini, semua berjalan seperti biasanya. Tak ada yang terlalu spesial. Tak ada yang istimewa atau yang memang begitu menarik untuk menjadi bahan penuturanku kali ini. Tapi justru disitu terletak keindahan cerita ini. Cerita yang garansiku mengalir secara alamiah. Tak ada skenario yang dipaksakan seperti tingkah sinetron televisi yang sekarang lagi menjadi tren panutan bagi anak muda kebanyakan. Tak ada pemaksaan. Di sini cerita berkembang dengan penuh keliaran imajinasi dari semua orang. Bahkan aku mengharap kalian yang membaca diariku ini akan mempunyai keliaran imajinasi sepertiku. Minimal kalian punya sebuah ruang kebebasan dalam imajinasi untuk berani menjadi apa saja. OK?

Kalau kalian mengiyakan, berarti aku sudah bisa dan telah dipercayakan untuk menjadi pemandu kalian dalam cerita ini. Cerita yang aku pikir bisa sedikit membantu kalian untuk melupakan susah hati karena baru saja putus cinta, kantong kering sedangkan uang kiriman dari ortu masih terlambat beberapa minggu, atau susahnya mencari dosen pembimbing untuk dimintai tanda tangan skripsi karena mereka justru lebih ingin bertemu uang kalian atau apalah. Yang jelas, aku tak ingin kalian menitikkan air mata atau meraung–raung saat membaca cerita ini. Ini cerita gembira. Cerita untuk menyuburkan senyum. Untuk melapangkan rongga dada biar tertawa lebih lepas.

Ini adalah kisahku yang ingin kubagi dengan banyak orang, termasuk kalian yang sedang membaca cerita ini. Meski kuakui, pasti sudah sangat banyak, cerita-cerita yang mengulas hal seperti ini. Namun ada secuil harapan bahwa kalian akan menemukan sebuah dunia yang berbeda dari sebelumnya. Sebuah ruang baru yang bisa dinikmati bersama, tidak hanya olehku, tapi oleh kita semua.

Karena sampai hari ini aku tetap yakin bahwa cinta akan tetap selalu mempunyai kisah menarik yang tak akan pernah habis untuk diceritakan. Entah itu pedih, suka, ataupun sebuah penantian panjang, sebuah harap, ataupun seperti nasibku saat ini. Mencintai dan menyemai rasa tanpa pernah diketahui oleh siapapun, oleh yang kucintai sekalipun. Tanpa pernah menambatkan asa lebih untuk balik disayangi. Mendapat sedikit mesra sebagai ronai rasa sayang dari kedua sisi.

Andre Barahamin