Bay #07: Diari 0.1

Bay bukanlah pemberani. Tubuhnya yang kini berada di atas kapal adalah dosa yang tak bisa disembunyikan. Mau dibela sekalipun, ini tetaplah sebuah kesalahan. Betapa sebenarnya Bay sudah egois dan menutup mata akan kenyataan yang datang bertamu secara baik-baik. Telinganya bungkam saat ketukan pintu dari ingatan, telah sengaja diacuhkan. Dengan keji dan sombong, layaknya orang-orang kaya di perkotaan yang memagari rumahnya dengan tembok tinggi lengkap dengan anjing penjaga agar setiap niat yang bertamu akan kecut. Bay mengekori tindakan yang selalu ia kritik. Tak peka.

Sejak dua malam yang lalu, telpon genggamnya juga sudah tak aktif. Bukan karena sekedar kehabisan energi di dalam baterainya. Namun itu adalah kesengajaan yang terencana. Menghindari gurat kata di layar telpon genggamnya. Itu tujuannya. Tingkah pengecut. Padahal Bay mengerti dengan benar. Bukan cuma segenggam kegusaran yang ia timbulkan. Lebih dari itu. Akan ada berbagai macam spekulasi yang seharusnya tak perlu terjadi. Andai saja ada sedikit yang tersisa. Sedikit keberanian untuk mencoba berhadap-hadapan. Dalam bisu sekalipun. Tak mengapa. Itu sudah lebih dari cukup, jika memang hatinya terlalu pelit untuk berbagi.

Tapi semuanya akan jadi kontradiktif. Bagaimana mungkin Bay yang selama ini berbicara tentang kebebasan hasrat dan letupan energi hati yang jangan dikekang, namun kini berbalik menjadi si penakluk itu sendiri? Bagaimana mungkin jika seorang yang selalu mendamba luasnya hamparan dunia dalam cinta, kini berbalik memprivatisasi ruang? Meski kecil sekalipun. Meski kecil seperti debu sekalipun. Meski lebih kecil dari debu, tetap saja! Menjilat ludah sendiri? Apa kini telah berbalik dia untuk kembali menjadi satu dari sekian orang yang mesti digantung atas kesalahannya mencuri mimpi dan harapan orang lain?

Angin di haluan kapal memang dengan kasar mempermainkan rambut Bay. Meski itu tak cukup kuat untuk menampar kebekuan yang berdiri tegak dengan pandangan kosong ke depan. Memandangi malam di kejauhan batas tepi laut tanpa pulau. Menghamburkan semuanya agar ikut terbawa angin laut? Agar ada yang bisa dijadikan tertuduh sebagai pencuri untuk sebuah tindakan yang disadari? Jika benar, maka perlu kembali Bay mendefiniskan siapa sebenarnya yang mencuri dan siapa korbannya. Mesti dia sendiri yang menjawab. Karena lumba-lumba tak muncul berenang di depan kapal saat bulan redup setengah hati.

Andre Barahamin