Bay #07: Diari 0.0

Angin malam memang terlanjur akrab dengan dirinya. Tak ada yang bisa menyangkal bahwa semuanya adalah karib ketika malam terlanjur dicintai oleh semua dari kita yang mencintai kesendirian. Bay juga seperti itu. Di atas haluan kapal yang sekarang tengah bergerak di atas birunya permadani laut, hanya angin yang perlahan membisiki puisi demi puisi lama yang hampir dia lupakan atas nama kenangan. Ada usaha secara sadar dari dalam hatinya yang berusaha untuk dikeraskan bahwa tak boleh lagi ada kata yang harus dihamili saat ini.

Itu sudah jadi kemarin. Pagi hari ini punya warna matahari yang berbeda. Maka ada gusar ketika jarum di dalam benda bulat yang melingkari pergelangan tangan kanannya seperti enggan beranjak dari sebuah simbol yang semakin mematut ketidakpuasan. Pagi tak tak pernah dirindukan seperti ini.

Tahuna. Sebuah nama yang akhirnya kini berhasil menjarah sebagian jiwanya. Kedatangan yang sekejap ternyata sanggup menghamili keadaan dan membuat jutaan kenangan lahir sebagai konsekuensi logis dari tindakan. Dan kini seperti di jebak oleh rasa sesal dan rindu yang berebut mencari perhatian.

Masamnya air laut di sepanjang pesisir kampung Tidore seakan masih bisa dengan jelas terngiang. Bagaimana nikmatnya tubuh yang dihajar oleh debur ombak yang sedang berlomba mencapai garis pantai. Dansa terakhir yang di persembahkan oleh ikan-ikan Dahalu berukuran sebesar ibu jari karena terjaring pukat yang mengikis kulit tangan Bay yang selama ini hanya memegang pena. Kulit yang menghitam legam karena setiap detik matahari di berikan kebebasan penuh untuk menjajah.

Masa itu tak ada sesal yang diundang datang.

Tawa dan senyum justru yang diberikan ruang untuk berpesta pora dalam kalbu seorang Bay. Meski ini bukan Bay yang dulu yang belum mengantuk sebelum subuh menjelang, kemudian nanti akan terbangun ketika jam makan siang, yang bergelut dengan buku, puisi, dan cerita. Tapi ini sisi kelam yang mungkin paling Bay nikmati. Ini seperti kontemplasi modern dari serangan hidup yang terlalu bertubi-tubi dan tak memberikan sedikitpun jeda bagi waktu untuk istirahat.

Andre Barahamin