Bay #05: Deja Vu

Dan rasa itu seperti terulang.

Apalagi malam yang hanya ditemani beberapa bintang plus udara dingin Leilem ini sungguh mampu membuat siapapun terlena dalam dekapannya sekedar mencari hangat. Akupun termasuk serta. Ditemani sebungkus rokok yang dibelikan oleh Vai tadi siang ketika singgah disebuah mini market sebelum kami melanjutkan perjalanan ketempat ini. Dengan membujuk bahwa acara malam ini akan berjalan dengan baik meski aku sendiri masih ragu dengan kemampuan para pemain teater baru di kelompok kami. Tapi sebagai satu-satunya laki-laki yang ikut dalam rombongan perjalanan kali ini, aku tak ingin membuat Vai terjebak khawatir berlebihan. Biarlah kalut itu bersemayam sendiri dalam hatiku. Tak usah ada orang lain yang memilikinya. Lagipula aku tak berniat untuk membaginya dengan siapapun.

Meski jujur aku sedikit terkejut karena ternyata bukan hanya beberapa bungkus penganan dan sebungkus rokok untukku yang menjadi alasan Vai memilih mini market ini sebagai terminal sebelum perjalanan ini mencapai titik didihnya. Tapi juga dikarenakan janji yang telah disulamnya bersama dengan Fei. Entah kapan. Aku tak tahu pasti. Yang jelas, aku hanya mampu terhenyak setelah mataku berpelukan lagi dengan wajah itu. Setelah hampir dua tahun tak bertukar kehangatan dialog, tiba-tiba saja Fei muncul lagi dihadapanku. Dan tak ada yang berubah. Fei seperti dua tahun yang lalu. Rambutnya yang hitam tetap dibiarkan terurai menyelimuti punggungnya dari lihat mata siapa saja. Mungkin termasuk diriku. Bahkan kaos ketat yang kini dikenakannya berlambangkan big A. Sebuah hadiah yang dulu sangat ingin ditolaknya namun kemudian atas nama cinta dipeluknya erat sebagai konsekuensi logis bangun sebuah hubungan yang menerima setiap kekurangan dan kelebihan kepingan hati yang lain.

Padahal aku tahu betul, Fei tidak mengerti benar bahkan boleh dikata sangat membenci Anarkisme. Aku bisa merasakan ketidaknyamanan dari setiap desahan nafasnya dulu ketika dia dengan sedikit memaksa kuajak untuk ikut dalam diskusi-diskusi melelahkan di emperan trotoar tempat dimana biasanya sebelum bertemu dengannya aku biasa menghabiskan malam. Mengusir penat dan marah yang menggumpal menjadi uap dalam setiap lantunan lagu yang kami dendangkan dengan penuh percaya diri. Tak ada yang tahu pasti siapa yang paling punya suara indah. Namun semua aturan itu seperti lenyap ketika rasa persaudaraan dan persahabatan mekar di sepanjang emperan trotoar ini. Walau setiap mata yang melewati kerumunan kami pasti akan menghadiahi cibiran dan pandangan jijik, tapi kami tak pernah peduli. Ketika itu, aku sadar aku telah memaksa Fei masuk dan mengerti duniaku. Dan aku dikemudian hari mengerti bahwa aku tak sanggup untuk melakukan hal yang sama dengan dirinya.

Bahkan ketika ia dengan genggaman tangannya mencoba untuk memberiku keberanian bahwa aku bisa menjadi teman baginya menjalani liku waktu, tapi tidak. Aku saat itu terlalu egois dan angkuh untuk kemudian mengakui bahwa aku tak mampu. Dengan bersembunyi pada berbagai alasan yang kemudian tak mampu kujelaskan, dengan sengaja telah kusudutkan Fei pada titik dimana aku merasa punya kuasa penuh atas diriku. Dengan egois menginginkan kemerdekaan diri sendiri, tapi disisi lain terus membiarkan orang yang lain berada dalam tekanan karena tindakan itu. Dan Fei adalah korban itu. Korban kesengajaan seorang laki-laki pengecut yang mengatasnamakan kemerdekaan, cinta dan pengorbanan. Meski ia sendiri tak akan pernah mampu mempraktekkan hal-hal tersebut.

Senyumnya yang ringan sebagai ganti ucapan hai, dengan telak meninju ingatku yang hampir membeku abadi tentang dirinya. Tentang semua luka yang pernah dia temui dan dengan terpaksa harus diakrabi karena garis kehidupannya yang terlanjur memahat namaku disana. Aku mencoba melihat lebih teliti lagi apa mungkin sisa embun luka yang dulu jadi akhir kisah kami masih berbekas disitu. Dengan perlahan menerka apa gores pedih yang aku rangkai untuknya di malam Natal lalu masih rapi tersimpan dalam siku memorinya. Dan khawatir yang tak seperti biasanya dengan jelas merajai otakku. Membuat tubuh cekingku yang masih saja tetap seperti dulu semakin terasa dingin walau ada dua buah sweater yang dengan sengaja kuajak sebagai teman melawan alam.

Entah Vai mengerti atau tidak.

Tapi aku merasa bahwa mini market ini tiba-tiba saja berubah menjadi tempat yang tak lagi asing bagiku. Jejer demi jejer rak-raknya yang menggotong lemah setiap produk seperti jalan aspal berdebu boulevard Manado yang dulu sering sekali kusinggahi sambil menggenggam erat tangan seorang perempuan. Wanita yang sempat untuknya kurangkai kata demi janji yang saat itu akupun sadar tak mungkin sanggup untuk memenuhinya. Tidak ada kepastian meski secuil. Tapi sepenggal cinta itu seperti tak lelah menanti sebelum kemudian semuanya mencair karena dusta yang layu dibibirku yang dulu dengan begitu hangatnya sering menciumi dahinya ketika kami harus berpisah oleh malam dan waktu.

Dahi itu kini benar-benar ada dihadapanku. Tidak hanya dahi, bahkan sebentuk wajah. Lengkap dengan senyuman. Dengan senyum yang masih sama hangatnya menyapaku. Seperti tak pernah terjadi apa-apa. Bahkan mungkin seperti tak mengenalku lagi. Senyumnya bagiku lebih ringan dan tulus ketika Vai bersua dengannya. Dan ketika tubuhku menyelip keluar menampakkan wujud padanya, Fei seperti terkejut sesaat. Meski dengan cepat ia bisa mengendalikan semuanya. Memang, sedari dulu Fei adalah orang yang paling ahli mengendalikan emosi ketika dihadapan umum. Tapi dulu tak pernah dihadapanku. Bersamaku Fei seperti menjadi anak kecil manja yang setiap saat memberi permintaan yang harus dipenuhi saat itu juga. Kalau mimik ketus dan penolakan yang dia lihat di wajahku, pastilah Fei akan mengancamku dengan tetes air mata yang berkumpul di sudut matanya. Menangis. Itu adalah senjata andalannya ketika menghadapiku. Tapi hanya di depan tubuhku Fei mampu menangis bahkan sampai berjam-jam. Tak pernah ada orang lain yang pernah melihat dia menangis kecuali aku.

Bahkan ketika malam ini angin desa Leilem menyiksanya, ia hanya mengeluh pendek pada Vai. Tidak padaku. Meski aku tahu, Fei ingin langsung mengatakannya padaku. Tapi tidak. Ia masih terlalu sungkan untuk mengungkapkannya. Atau mungkin ia masih terlalu marah bahkan dendam terhadap perpisahan yang dulu kuhadiahkan padanya. Dan aku tanpa disuruh langsung melepaskan sweater hijau yang kukenakan. Dan sama, tanpa sepotong kata kusodorkan padanya agar dia juga mengerti bahwa pertemuan ini masih terlalu sulit untuk kuterima terjadi hari ini. Terjadi malam ini ketika aku dengan segenggam iblis dalam kepala berniat untuk menyatakan cintaku pada Gae tepat ketika ia selesai pentas. Setelah hampir dua minggu ini melakukan pendekatan dan mengambil kesimpulan bahwa aku tak mungkin mendapat penolakan karena Gae juga mempunyai perasaan yang sama terhadapku.

Dan sudah hampir empat jam kulewati sambil duduk bersebelahan dengan Fei. Hanya kami berdua. Sedikit sepi disekitar kami berdua karena aku memang senang sekali menikmati kesunyian. Fei paham betul hal itu. Mungkin di keramaian ini hanya Fei yang benar-benar memahamiku sehingga ia bisa menemukanku di sudut taman villa ini. Tanpa permisi langsung mengambil duduk disebelahku. Kemudian dengan diam seperti tak ingin mengganggu semediku, Fei juga langsung tenggelam dalam bisu. Matanya memandang lurus kedepan. Aku tak tahu apa yang menarik matanya hingga bisa jatuh cinta dan berlarut-larut dalamnya. Aku tak ingin mencari tahu karena aku belum tahu apa kata yang paling tepat untuk membuka percakapan ini dengannya. Setelah dua tahun, sungguh aku tak tahu apa yang ku bicarakan dengannya.

Aku hanya bisa terus mengganti rokok yang hampir mencapai filternya dengan sebatang rokok yang baru. Terus dengan sengaja berteman nikotin malam ini karena tidak ada pilihan lain yang diberikan oleh dingin. Tak ada cap tikus yang tersedia untuk membantu hangatnya tubuh. Menurut panitia, disekitar lokasi kegiatan tak boleh ada aktifitas alkohol. Maklum acara kali ini digagas oleh salah satu lembaga mahasiswa yang bergerak dibidang kerohanian. Jadi demi landasan moral, produk seperti cap tikus adalah barang haram ditempat ini. Dan demi Vai aku berusaha untuk bertoleransi dengan aturan ini. Walau aku adalah tipe orang yang paling tidak suka diatur, biarlah dingin kuberi kuasa untuk menghajarku hingga babak belur. Tak ada cara lain. Masih untung, merokok tak termasuk bagian larangan dari sekian rupa aturan mereka. Jadi masih beruntunglah para perokok sepertiku. Minimal tak semua hak hidup kami terpangkas di tempat ini. Hanya demi acara sialan ini.

Suara serangga disekitar tempatku berduaan dengan Fei begitu ramainya seperti mengejekku yang hanya masih terus berteman diam. Sedang ada perempuan cantik disebelahku yang dengan sengaja kuacuhkan hanya karena galau pikiran masih terus berkecamuk diotakku. Bibir ini terus dengan bodohnya berusaha memilih kata-kata yang akan dirangkai sebagai mula sebuah dialog. Entah kemana arahnya, aku tak tahu. Itu sekarang ini bukan lagi prioritas bagiku. Yang utama adalah menentukan pilihan. Antara Gae dan Fei. Dua nama itu yang sebenarnya sedang bertempur dalam imagiku. Apakah perempuan yang pernah kutinggalkan demi sebuah jalan yang kulabeli pilihan ataukah perempuan lain yang hampir selama sebulan ini dengan jelas menunjukkan perasaannya bahwa ia mengharapku menjadi temannya melewati rintangan.

Andre Barahamin