Bay #04: Sebentuk Wajah

Bay menumpahkan kegilaan ini pada lembar kertas putih yang didaulat untuk mau tidak mau menerima semua kegundahan yang telah begitu menyiksa malam. Bay membentuknya menjadi barisan kata-kata yang harus siap memberikan telinganya mendengar semua ocehan lara. Bay membiarkan resah dan pilu yang telah terlanjur bersenggama, menari bebas di hadapan mata. Berupaya menghibur meski itu tetap sia-sia. Berharap Bay tak akan lagi mengingat sebentuk wajah yang tega membiarkan dirinya menggarami rindu. Melupakan pedih, sama seperti Hayam Wuruk mencoba semedi sebagai pelarian satu-satunya dari bayang Dyah Pitaloka.

Dan malam ini, Bay berubah menjadi klise.

Bermetamorforsa menjadi sebuah bentuk tanpa nama. Belum bernama. Karena Bay tak ingin memberikan gelar kepada kesepian ini. Bay ingin sepi ini juga merasakan tangisku yang sejak siang tadi, mencambuki tanpa henti seluruh raga. Dengan sengaja membuat Bay tampak linglung dihadapan banyak manusia yang telah terlanjur mengenalnya sebagai seorang penyulam kata. Namun Bay kehilangan talentanya saat ini. Bay tak bisa lagi merenda hari-hariku menjadi motif yang kuinginkan. Bay telah dirampoki dengan sadar. Dirampok oleh sebentuk wajah yang baru dikenal.

Sebentuk wajah yang didalam kebeningan matanya, Bay mampu melihat lagi Tuhan yang selama ini lupa dikunjungi. Sebuah bibir yang mampu tersenyum hingga membuat bulan akan iri ketika beruji tanding dengannya. Sepasang alis yang membuat Bay seperti berada di tengah padang ilalang. Terjebak. Namun tak ingin keluar. Sebentuk wajah yang dimiliki seorang perempuan yang tak pernah kumimpikan kemarin malam untuk bersua dengannya di alur kehidupanku saat ini. Bay menjadi takabur melihat matahari. Bay kehilangan tumpuan kecongkakan yang seharusnya tetap menjadi perisai perlindungan setiap kali perang seperti ini tiba.

Dengan begitu bodohnya berperang ketika ternyata semua senjata tak kubawa. Bay hanya menggendong ego seorang Goliat yang merasa akan menang ketika tarung dengan Daud. Sungguh. Hari ini Bay merasa seperti Samson yang telah ditinggal pergi Delilla setelah mencukur habis rambutnya. Ibarat ranting daun yang kini menggantung lemas, antara hidup dan mati. Bay saat ini menjadi zombie. Tapi zombie paling bodoh.

Bodoh karena telah sengaja menantang maut yang datang dengan topeng cinta. Lalu dengan jumawa menantang batas hidup, padahal yang akan terbingkis menjadi hadiah untukku adalah kekalahan. Dan kekalahan itu begitu menyakitkan karena Bay telah sengaja terlebih dulu mengikat leherku pada jari-jemarinya yang ingin kukecup saat ini. Malam ini. Ketika hanya serangga yang sanggup menemaniku menunggu pagi. Menanti surya meneteskan sinarnya. Berharap bisa untuk kesekian kalinya datang dan menghadiri pemakaman embun yang jatuh ke bumi.

Seluruh kornea matBay kini semakin pekat dalam melihat jalan yang telah kulalui selama ini. Menyumpahi hari pertemuan itu agar tak pernah terjadi biar Bay tak merasakan kegilaan seperti ini. Menderetkan huruf-huruf berisi mantra pengharapan tentang sebentuk wajah itu. Wajah asing yang berani memasuki kedalaman sanubariku lalu tanpa sopan, berpaling tanpa permisi. Bay tak bisa terima itu. Bay tak ingin menjadi sebuah babad kehidupan yang gagal meski episode terakhir belum dipentaskan. Bay tak ingin malam ini menjadi sebuah drama yang ditinggal pergi para penontonnya karena menganggap kisah penutup sudah bisa diterka. Tidak !

Bay masih bisa berdiri untuk kembali mengayun pedang dan bertarung lagi. Meski ada sayat luka di mana-mana, tapi Bay akan beradu hingga semua darahku lari dari tubuh. Bay ingin mati seperti ksatria salib yang mengatupkan mata sambil menggoreskan segurat senyum ketenangan. Hal dasar yang mulai pertemuan itu, tak lagi menjadi punyanya.

Sebentuk wajah itu telah membuatnya lupa mengunjungi Athena untuk kembali berdiskusi dengan Plato, Socrates, dan Aristoteles. Dan Baypun tak singgah ke Jerman bersua dengan Marx dan Engels. Bay juga melewati Prancis tanpa berpikir untuk mengutarakan rasa sepi ini kepada Rosseau. Dan ditaman syair, Bay memilih bisu meski Allen Ginsberg, Jack Kerouac, Patty Smith, Kurt Voneggurt Jr dan masih banyak lagi, sedang ramai berdiskusi.

Dan selama 259.200 detik, Bay dengan sengaja tak mengunjungi semua sahabatnya. Dan lebih memilih berjalan di setapak kering kerontang ini untuk mengumpulkan serpih-serpih bayang wajah itu untuk kemudian kupasang dalam pigura bambu di kamar yang sejak 1460 hari telah kubiarkan kosong. Bay berharap agar sebentuk wajah itu sudi menjadi berhala. Karena kegilaan ini semakin akut dan Bay tak kuasa lagi untuk menahan kakiku tak berlari tanpa arah karena bingung menentukan arah mencari kemana angin membawa sebentuk wajah itu.

Meski Bay harus mencekik bunga agar dia mau memberi tahu di mana kini dia diam, Bay tak peduli lagi. Karena sungguh semuanya berubah menjadi medan tempur baginya. Tak ada pilihan lain kecuali bertahan hidup. Dan Bay belum ingin mati. Bay masih ingin melihat sebentuk wajah itu esok, lusa bahkan mungkin setiap Bay bangun pagi sampai matahari terakhirku. Bay akan melakukan semuanya jika itu adalah harga yang kemudian harus kubayar atas semua dosa-dosBay dimasa lalu. Seberapapun mahalnya itu.

Karena sungguh Bay tak ingin kehilangan sebentuk wajah itu sampai lelah bernafas. Terus dapat menatapnya adalah sebuah mujizat yang coba ingin Bay nyatakan seberapapun letihnya kedua lututku menyangga Bay berjalan mencari wajah itu. Merajam semua sendi jantungku juga akan kulBaykan agar bisa kudengar musik saat dia mengucapkan sebuah kata. Bay ingin semua itu. Sangat ingin walau Bay akan ditimpakan kutuk berlapis karena ingin ini. Tapi tak mengapa.

Katakan. Di mana dapat Bay temui sebentuk wajah itu saat ini ?