Bay #03: Sebentuk Hati

Ada yang pernah bilang, bahwa hidup berarti pilihan. Semuanya bicara soal memilih ketika tiba di persimpangan. Dan sudah pasti, kita tak akan pernah dapat untuk melalui kedua jalan sekaligus. Mau atau tidak, kita harus menentukan jalan mana yang akan kita jalani. Suka atau tidak suka, suram atau terang jalan yang kita lalui nanti, itu soal nomor dua. Yang utama, adalah keberanian kita untuk memilih. Menentukan sesuatu meski kemudian akan datang penyesalan bahwa kita telah salah untuk memilih. Tapi kalau pilihan itu kita lakukan secara sadar, maka penyesalan itu mungkin saja tidak akan terlalu berat. Karena kita yang memilih.

Ada juga yang bilang bahwa hidup dengan terlalu mengandalkan rasio dan logika membuat dunia akan berkurang keindahannya di mata kita. Memandang segala sesuatu dengan takaran masuk akal atau tidak, membuat manusia akan kurang menikmati hidup. Melihat semuanya dari sudut pandang logis atau tidak, membuat mata batin kita tuli. Tak mampu lagi meresapi momen-momen sedih ataupun gembira. Kita tak akan lagi bisa tertawa terbahak-bahak, tak akan pernah lagi menangis, tak akan pernah lagi merasakan luka, dan tak akan pernah bisa mengerti lagi tentang rasa bahagia.

Masih ada hal lain yang hampir sama dengan kedua hal diatas. Sebuah kalimat bahwa terlalu pintar membuat kita kehilangan rasa sebagai manusia. Kita tak sempurna lagi sebagai manusia yang terdiri dari bagian biologis dan bagian psikologis. Kita akan berubah menjadi android yang terprogram. Kita akan kehilangan rasa. Kehilangan penglihatan batin. Teramputasi mata hati kita dan kemudian berubah menjadi seperti mayat hidup yang punya otak tapi tanpa rasa. Kehilangan kemampuan purba kita sebagai makhluk yang perasa dan sensitif. Berganti dengan bangunan manusia baru, yang seutuhnya tak punya nurani.

Dan kemarin, ketiga hal diatas secara sepihak di lemparkan padaku sebagai sebuah vonis bersalah. Cap yang diberikan sebagai bentuk penghukuman atas tindakanku terhadap sebuah hati. Hati yang tak pernah kuingini untuk menjadi bagian perjalanan sejarah hidupku. Sebentuk hati yang tak pernah kusadari telah memerangkap sang pemiliknya dalam penantian hampa yang seharusnya tak pernah berlangsung. Dan ketika semedi hati itu berakhir, aku menjadi satu-satunya orang yang diharuskan bertanggung jawab atas kehancuran rasa dalam hati itu. Aku menjadi korban dari sebuah pengadilan yang tak adil dalam proses pemberian hukuman.

Aku meski tak didampingi pembela, diharuskan mendengarkan vonis yang dijatuhkan oleh orang-orang yang kuanggap kawan, dan dulupun mereka menganggap aku seorang sahabat. Bagian dari komune kecil yang kami bangun dengan lapisan pondasi kebenaran versi kami. Membiarkan telingaku dihantam dengan balok kata-kata hujatan, makian, umpatan dan celaan karena aku dianggap bersalah telah menghancurkan sebuah hati. Dengan rela membiarkan tubuhku terpaku duduk membisu diatas sebuah kursi kayu yang juga tak mampu kuharapkan untuk membantuku melewati proses penghukuman ini. Hukuman karena telah melukai sebuah hati.

Dan karena sang pemilik hati adalah seorang perempuan, dosaku menjadi seratus kali lipat lebih berat. Aku sebagai anak Adam, tak dibolehkan mengajukan pembelaan sedikitpun kecuali menerima bahwa aku memang bersalah. Telah melakukan sebuah kejahatan ketika dengan sadar memilih untuk tidak bersentuhan dengan sebentuk hati itu lagi. Telah berbuat dosa yang jauh lebih besar dari dosa Tuhan yang membiarkan Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa. Dan itu semua karena aku telah meremukkan sebentuk hati. Dan aku harus menerima tanpa penolakan bahwa aku memang telah bersalah meremukkan sebentuk hati.

* * *

“Kau telah salah besar kali ini, kesalahan yang mungkin akan kau sesali”.

Itu kalimat pertama yang langsung meluncur dari mulut Fritz ketika mendengarkan penjelasan singkatku. Frits langsung merespon dengan memberikan nilai minus padaku. Aku dianggap melakukan pilihan yang salah. Salah karena berbeda dengan pilihan yang mereka ambilkan untukku. Salah karena aku menentukan jalanku sendiri dan lebih memilih untuk tidak mengikuti jalan yang telah mereka tunjukkan untukku. Aku bersalah karena mengambil sebuah putusan tanpa berkonsultasi lebih dahulu dengan mereka. Aku bersalah karena mengambil sebuah putusan yang mengakibatkan hancurnya sebuah hati.

Dan Fritz, kawan yang telah kuanggap sebagai saudaraku, kakak juga teman paling setia dan bijak untuk dimintai nasehat dan beberapa pertimbangan ringan tentang beberapa masalah sepele, berubah menjadi musuh yang melihatku dengan tatapan curiga berbaur marah yang seperti tertahan. Jari-jarinya mengepal keras. Sepertinya, tinju itu akan mendarat di wajahku. Tapi aku tak bisa menerka saat ini, dibagian mana tinju itu akan menemukan padanannya. Di bagian mana, aku harus menanggung sakit yang menurutnya harus kurasakan karena telah menyakiti sebuah hati. Hati yang harusnya tidak kusakiti. Hati yang harusnya menjadi pilihanku.

Sorot mata Fritz menjadi sangat tajam. Lebih tajam dari biasanya. Lebih garang dibandingkan ketika ia memandang penuh dendam ke arah para tentara dan polisi yang selalu saja menghalangi kami saat berdemonstrasi. Tapi sorot mata yang biasanya hanya dibingkiskannya kepada lawan, kini secara frontal menantangku untuk balik menatapnya. Isyarat yang ingin aku menjelaskan sekali lagi apa alasanku mengambil pilihan ini. Atau mungkin juga itu sebuah pertanda bahwa aku kini telah menjelma menjadi musuh yang harus di lawan, dan kalau perlu dibinasakan. Musuh yang secepat mungkin harus segera berakhir hidupnya, karena telah menghabisi hidup sebuah hati.

Akupun tidak berusaha sedikitpun untuk membela diri, karena bagiku ini bukanlah pengadilan atas kesalahan yang harus kuakui. Aku tetap meyakini bahwa pilihan yang kuambil adalah yang terbaik. Dan sudah jelas kalau dalam setiap pilihan selalu ada harga yang harus dibayar. Termasuk mungkin dengan mengobarkan sebentuk hati. Dan Fritz serta semua orang harus mengerti dan mau tidak mau harus menghormati pilihanku. Setiap orang harus menghargai keputusan orang lain, dan orang lainpun harus menghargai pilihan yang kuambil. Meski kuakui, pilihan ini akan terasa sangat menyakitkan bagi beberapa orang.

* * *

“Kau harusnya tidak terlalu bersandar dengan logikamu. Tidak semua hal didunia ini harus ditakar dengan rasio dan logika seperti yang sering kau praktekkan dalam kehidupanmu dulu. Kehidupan yang sungguh membosankan, sehingga tak ada satu manusiapun yang ingin terlahir kembali sebagai dirimu. Tak semuanya harus kau analisa seperti perkara politik ataupun sosialisme. Kau tidak hanya harus menghabiskan seluruh waktumu untuk memikirkan orang lain. Sekali-kali pikirkanlah dirimu sendiri. Sekali-kali berpikir dan bertindaklah seperti orang kebanyakan. Kurangi kebiasaanmu menghabiskan waktu dengan membaca dan menulis berbagai artikel”.

Itu Girun. Panjang dan melelahkan untuk didengar. Dia memang selalu seperti itu. Menjelaskan segala sesuatu secara lebih mendetail dan berharap agar orang-orang yang mendengarnya bisa memahami dan tentu saja Girun pun berharap bahwa aku juga akan mengerti maksudnya hari ini. Berniat agar aku merubah keputusanku yang sebenarnya kupikirkan jauh lebih sering dua bulan terakhir ini. Dan itu sungguh melelahkan. Dan aku ingin agar kelelahan itu tak berulang. Aku bukan keledai yang harus jatuh dilobang yang sama berulang kali. Aku manusia yang bisa berpikir dan menganalisa serta mungkin sedikit menerka hari esok.

Jujur kuakui, keputusan yang kuambil memang sedikit berat untuk bisa diterima sebagai sebuah kenyataan. Atau katakanlah ini takdir Tuhan. Mungkin ini sudah kehendak Tuhannya sebentuk hati agar aku mengambil keputusan untuk sesegera mungkin menjauh dari kehidupannya. Berhenti untuk kemudian dengan sengaja membiarkan sebentuk hati itu terus saja menyiram rasa, membiarkannya tumbuh hanya untuk dilihat layu. Bukankah itu lebih kejam? Dan bukankah perpisahan itu memang menyakitkan? Sama besarnya dengan rasa bahagia ketika pertemuan itu hadir pertama kali? Kenapa kita hanya bisa menerima rasa manis, sedangkan yang pahit segera ditolak?

Aku bukan menganggap diriku adalah manusia super sibuk yang tidak membutuhkan sebentuk hati. Tidak ! Aku juga membutuhkannya. Tapi aku masih terlalu baik hati untuk dengan ceroboh membiarkan sebentuk hati itu hancur berantakan dikemudian hari karena diriku. Karena pilihanku. Karena keputusanku untuk mengambil jalan yang berbeda dari apa yang semua orang inginkan untukku. Aku tak ingin masa depanku ditentukan oleh orang lain, sekalipun dia Tuhan. Aku lebih mempercayai kekuatanku sendiri untuk mencapai apa yang kuimpikan. Sombong memang. Tapi minimal, aku lebih jujur untuk mengakui bahwa manusia memang sombong.

Dan bukankah justru sangat manusiawi jika kemudian aku mempunyai rasa sombong? Adam dan Hawa juga mempunyai rasa sombong. Semua manusia punya rasa itu seberapun usahanya untuk berpura-pura tidak sombong agar kelihatan seperti Tuhan didepan orang lain. Munafik ! Aku tak ingin jadi munafik. Aku hanya ingin benar-benar jadi manusia seutuhnya. Punya semua rasa dan semua ego. Dan aku tak ingin kehilangan apapun. Termasuk menghilangkan rasa sombong itu. Karena hanya dengan kesombongan aku bisa terus awas dan tak menjadi takabur dalam menentukan langkah berikut menapaki hari.

Aku tahu, kehidupan yang kupilih untuk kujalani mungkin akan terasa sangat asing bagi banyak orang normal diluar sana. Tapi aku tak peduli dengan itu semua. Aku sudah terbiasa untuk menjadi berbeda dengan banyak orang. Tidak hanya soal cara berpakaian, tapi semuanya. Aku membedakan diriku dengan banyak orang agar aku bisa tetap hidup dan tetap mengenali diriku. Sebab, apa guna menjadi sama dengan banyak orang jika kemudian kau akan kehilangan dirimu sendiri? Dan kupikir, aku tidaklah terlalu bodoh seperti banyak anak muda diluar sana yang rela menghabiskan seluruh hidupnya untuk meniru dan menjadi sama seperti orang lain.

Katakanlah aku seorang individualis. Mungkin benar, dan mungkin saja tidak. Tapi yang jelas, aku juga tak memungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial yang akan mati jika tak berinteraksi dengan orang lain. Aku menyadari itu dan cukup banyak orang yang kuberikan akses untuk memasuki kehidupanku. Termasuk sebentuk hati itu. Dan sungguh, aku tak pernah menduga kalau sebentuk hati itu akan terikat dengan seluruh kehidupanku. Mencapai kedalaman yang tidak pernah dicapai oleh orang lain karena memang aku dengan sengaja menutup diri dalam masalah ini. Aku hanya tak ingin memberi harapan yang tidak mungkin kepada siapapun.

Aku bukan Mesias yang memberi janji yang hingga saat ini belum bisa ditepatinya. Dan aku tak pernah ingin menjadi Mesias kedua. Aku terlalu logis untuk mengucapkan sesuatu dengan setengah keyakinan dan membiarkan banyak orang tertipu untuk hidup dalam pengharapan yang semu. Seperti menunggu Godot. Aku berbeda. Aku tak pernah ingin menjadi Tuhan, ataupun menjadi Iblis. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Sepenuhnya menjadi diri sendiri. Katakanlah ini sebuah usaha melawan arus homogenisasi kebudayaan yang selama ini kutentang. Sebuah usaha yang telah kurintis apapun jalannya. Termasuk menghancurkan sebentuk hati itu.

Karena kalau saja aku boleh membela diri, aku tak sepenuhnya bersalah dalam hal ini. Seingatku, tak pernah sedikitpun aku memberikan isyarat bahwa dia boleh memiliki kunci kedalaman hati yang selama ini sengaja kubiarkan sepi. Akupun tak pernah menuliskan kata padanya bahwa sebentuk hatinya ingin kumiliki sampai mati. Aku juga tak pernah memberikan hadiah setiap sebentuk hati itu memperingati hari kelahirannya. Tak pernah ada hadiah, dan tak pernah ada kartu ucapan selamat untuk sebentuk hati itu. Tak ada juga uluran tangan mesra atau kecupan di kening. Aku tak pernah melakukan ritual-ritual bodoh seperti itu.

Karena telah jelas dalam kepalaku, aku tak pernah ingin agar sebentuk hati itu menanam harapan didalam hatinya bahwa aku bisa menjadi miliknya sampai mata kami tak kuat lagi melihat dunia. Aku tak pernah menawarkan dia agar menjadi Julietku. Sebab aku tak terlalu menyenangi karya sastra William Shakespeare. Aku justru lebih menggemari Brecht. Meski aku menaruh hormat atas pencapaian kreatifitas William Shakespeare. Sama seperti aku menaruh salut terhadap Adam Smith meski aku lebih tertarik dengan Karl Marx. Tapi bagiku, menghargai para martir ilmu pengetahuan jauh lebih punya otak, daripada membenci orang tanpa alasan yang jelas.

Aku memang menyukai segala sesuatu secara objektif. Mungkin kalian akan menganggap aku terlalu sombong dalam memberi penilaian tentang diriku sendiri. Tapi sejauh ini, aku masih bisa mengatakan bahwa semuanya benar. Aku selalu menggunakan kalkulasi dan perlu melakukan beberapa tingkatan pertimbangan sebelum sampai ke tahap yang bernama keputusan. Termasuk ketika aku memutuskan untuk memberi akses ke sebentuk hati itu masuk dan menyinggung garis kehidupanku, aku telah melakukan beberapa pertimbangan yang kupikir merupakan prasyarat sebelum sebuah hubungan meski itu hanya pertemanan dimulai.

Dan pada saat itu, aku menganggap bahwa beberapa prasyarat itu mampu dipenuhi oleh sebentuk hati itu. Aku sudah sangat yakin kalau hubungan ini tidak akan pernah beranjak dewasa ketingkatan yang selama ini justru menjadi ketakutanku. Ketakutan untuk kemudian membiarkan diri terikat secara sadar kedalam sebuah hubungan yang bagiku akan berakibat terpenjaranya kehidupanku yang begitu mengagungkan kebebasan. Ketakutan untuk kemudian memberi ruang yang tidak terbatas kepada sebentuk hati untuk masuk dan membuat daerah pribadiku semakin menyempit. Sebuah daerah yang selama ini dengan sangat rapi kukunci dari siapapun.

Dan memang untuk beberapa saat, sebentuk hati itu mampu terus berada di tapal batas yang telah kugariskan. Sebentuk hati itu untuk selang selama dua tahun bersinggungan dengan kehidupanku, ia mampu tetap berada di garis akhir yang kemudian menjadi ujung dari semua persinggunganku dengan kehidupan diluar pribadiku, mimpiku dan semua buku yang selama ini setia membisu menemaniku melewati malam hingga kemudian memutuskan tidur ketika mentari justru baru saja memulai tugasnya untuk berbagi cahaya. Sebuah siklus kehidupan yang terasa aneh untuk mayoritas orang, bahkan untuk yang telah lama mengenalku.

Dan anehnya, sebentuk hati itulah yang paling sering membuatkan segelas kopi untukku ketika aku merasa terlalu malas untuk meramunya sendiri. Tapi dia tak pernah sekalipun kuberitahu tentang kebiasaanku itu. Aku hanya bisa menebak bahwa ia belajar dari melihat aktifitasku selama ini. Sebentuk hati itu sering tak sengaja terbangun ketika bunyi uap air mendidih di ketel sedang aku seperti tak peduli dan terus saja tenggelam dalam rutinitasku menulis. Dan memang selama ini, hanya sebentuk hati ini yang sanggup terjaga sementara yang lain terus tenggelam dalam mimpi dan peduli dengan malam yang terus saja memberikan belaiannya kepada setiap manusia.

* * *

“Kau harusnya bisa lebih mengerti tentang masalah perempuan. Bukankah disertasimu kemarin tentang masalah perempuan? Kau juga masih sering kulihat beberapa kali menulis artikel tentang perempuan. Kenapa sekian ilmu yang kau pelajari hingga membuatmu terlihat seperti manusia aneh yang tak normal, tak kau praktekkan untuk mencoba belajar mengerti dengan dia? Ataukah memang kau hanya ditakdirkan untuk menjadi seorang teoritisi semata dan akan selalu menemui kegagalan ketika mencoba bertarung di ranah praktek? Atau mungkin kau ini punya oritentasi seks yang berbeda dengan lelaki kebanyakan? Apa kau gay?”

Gace menghentakku dengan pertanyaan konyol itu lagi. Padahal telah ribuan kali kujelaskan bahwa aku masih normal. Bahkan sangat normal. Aku masih bisa ereksi ketika melihat gambar perempuan telanjang, dan sangat sering masih menonton film-film porno bersama Girun dan Fritz. Perempuan ini sepertinya ikut terluka ketika kuputuskan untuk meremukkan sebentuk hati itu. Meski Gace tak punya hubungan darah dengan sebentuk hati itu. Tapi sepertinya, sebentuk hati itu telah mampu mencuri seratus persen perhatian dari semua orang di komunitas ini. Semua orang kini berbalik menghakimi pilihanku. Sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Semua teman-temanku kini menjadi musuh-musuhku. Hanya karena mereka kemarin malam mendapati ada setetes air mata di sudut mata si sebentuk hati itu. Cuma karena aku harus dengan terpaksa meremukkan sebentuk hati itu agar menjauh dari kehidupanku. Agar sebentuk hati itu kembali lagi kebatas yang dulu telah menjadi kesepakatan awal ketika hubungan ini dimulai. Dan aku tak akan main-main kala ada yang berani menginvasi ruang pribadiku. Aku punya naluri bertahan sama seperti kemampuan leluhurku dulu ketika bertahan dari serbuan bajak laut maupun bangsa Eropa yang mencoba menjajah. Aku adalah seorang petarung. Dia harus tahu itu.

Dan ini semua bicara soal kemampuan untuk bertahan hidup. Dan aku belum ingin mati saat ini. Aku belum siap untuk berbagi ruang sempit ini dengan siapapun itu. Suatu saat, itu bisa saja mungkin. Tapi sekali lagi tidak untuk saat ini. Aku masih punya segudang mimpi yang harus kugapai dulu sebelum memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan sebentuk hati perempuan. Aku belum ingin berbagi sedetikpun dari keseluruhan waktuku saat ini dengan sebuah hubungan yang akan menyita lebih banyak materi dan waktuku yang bisa digunakan untuk mengejar dan mewujudkan apa yang kuimpikan sebagai seorang manusia.

Bukan soal penakut atau tidak. Tapi soal kesiapan. Kesiapan utuh menyongsong sebuah hubungan yang tidak main-main. Karena aku tidak suka main-main. Bahkan selera humorku tergolong sangat rendah dibanding dengan kawan-kawanku yang lain. Tapi bukan berarti aku adalah robot tanpa perasaan sama seperti manusia lain. Aku benar-benar seorang manusia sama seperti manusia. Hanya ada beberapa penandaku yang sengaja kuciptakan agar aku bisa dikenali ditengah-tengah masyarakat yang menurut pandanganku, tak lagi mempunyai identitas. Banyak orang saat ini tak lagi mampu mengenali siapa dirinya dan dari mana dia berasal. Sebuah ironi modernitas.

Hanya saja, sebentuk hati itu datang disaat yang kurang tepat saja. Dia terlalu cepat menyongsong diriku pulang yang bahkan belum berangkat ke medan tempur untuk memenangkan pertarungan hidup matiku mempertahankan eksistensi manusiaku di tengah-tengah serigala-serigala yang menyebut dirinya manusia. Pemangsa-pemangsa biadab yang kebanyakan justru dipilih menjadi penguasa untuk memerintah di negeri yang kehilangan sejarahnya. Negeri yang sampai saat ini terus kusumpahi agar bubar. Bubar dan berantakan jika itu harga yang harus dibayar untuk menegakkan identitas. Siapa aku, siapa kau? Dari mana kita berasal?

Aku bukan orang idealis, karena memang aku lebih percaya pada praktek. Bukan hanya bersandar pada teori semata. Seperti kebanyakan teman-temanku dulu sewaktu di kampus yang mampu menghapal puluhan judul buku beserta nama penulisnya, ratusan nama tokoh, ataupun kutipan-kutipan kalimat-kalimat dari para tokoh besar duni. Sementara mereka sendiri kebingungan menentukan pendapatnya sendiri. Tak mampu membumikan berbagai teorinya kedalam bentuk yang paling sederhana. Mereka tak pernah sanggup menjelaskan secara lebih lugas berbagai macam jenis istilah yang paling sering diperdengarkan hanya agar kelihatan lebih pandai dari orang pada umumnya.

Mereka senang dan bangga terus berdiam diri dalam menara gading mereka sementara banyak orang diluar sana justru mati kelaparan. Para kaum muda itu justru lebih sibuk membaca dan berdiskusi lalu bicara soal kebutuhan orang miskin, padahal mereka sendiri tak pernah melihat langsung bagaimana kemiskinan itu. Mereka bicara soal rasa lapar meski mereka sendiri tak pernah ada mendampingi para orang lapar itu berjuang menggapai hak-haknya yang sekian lama dibuntungi oleh penguasa. Mereka demontrasi di jalanan hanya agar mereka bisa menunjukkan kepada banyak orang kalau mereka menggunakan kaos bergambar Che Guevara. Kaos yang bagiku kini telah kehilangan tempatnya untuk dimaknai ketika wajah Che berubah menjadi mode.

Dan sebentuk hati itupun datang padaku menggunakan kaos hitam yang juga bergambar wajah tampan Che sambil menghisap cerutu Kuba-nya. Pertama kali ketika tubuhku bersua dengan tubuhnya dalam sebuah perjumpaan yang tak pernah kuharapkan akan terjadi di saat itu. Maklum saja. Sebentuk hati itu datang ketika aku sedang sibuk menulis sebuah artikel yang akan dikirim ke sebuah koran lokal di kotaku. Semua energi berpikirku tersedot untuk menyelesaikan tulisan itu tepat pada waktunya, hingga aku tak menyadari bahwa diruangan yang jenis penghuninya telah kukenal dengan baik semua, kini bertambah satu orang lagi.

Sebentuk hati yang menawarkan senyum yang saat itu tak mendapatkan tanggapan dariku.

Otakku bahkan sampai tak mampu merekam gambar wajahnya saat itu, juga luput mengingat namanya. Dan ketika dia datang lagi untuk kedua kali, dengan tingkah bodoh, aku terpaksa harus menjalani ritual jabat tangan sebagai tanda perkenalan untuk kedua kalinya. Sebuah aib yang mungkin telah jadi tanda awas bahwa akan ada luka yang disebabkan jika sebentuk hati itu terlalu lama bersinggungan dengan garis kehidupanku. Tapi ia tetap berkeras hati untuk tetap memasuki duniaku yang selama enam tahun belakangan ini sepi dari makhluk berjenis perempuan. Hanya ada beberapa saja. Tapi mereka tak lebih dari teman semimpi, secita dan seperjuangan mewujudkan mimpi itu. Selama ini hanya ada Gace, Waty dan Angie dalam kehidupanku sampai kemudian sebentuk hati itu hadir dalam duniaku.

Gace adalah pimpinan penerbitan kecil dimana kini aku bernaung dan melakukan aktifitas sebagai seorang manusia, bekerja. Dia adalah perempuan yang umurnya beberapa tahun lebih tua dariku. Seorang perempuan yang mempunyai spirit tarung seperti laki-laki. Seorang yang penuh dengan pengalaman hidup yang pahit, tapi justru dialah yang paling gemar tersenyum. Gace menganggap bahwa kisah sedih tak layak ditangisi, tetapi seharusnya ditertawakan.

Lalu Waty. Dia lebih seperti adik bagiku. Masih sering bertingkah manja kalau didekatku. Satu hal yang paling kusenangi dari Waty adalah dia selalu mengingatkan aku pada adik perempuanku yang sudah hampir delapan tahun tak lagi kujumpai. Waty juga paling senang membuatkanku segelas kopi meski hingga kini, ia tetap saja tak mahir dalam meracik kopi seperti seleraku. Tapi aku tak protes. Aku justru akan meneguk sampai habis kopi buatannya, karena ada rasa lain yang terkandung didalamnya. Rasa sayang yang tulus dari seorang adik yang begitu kurindu selama delapan tahun terakhir ini.

Kemudian ada Angie. Perempuan pintar yang selalu jadi temanku berdiskusi setiap saat. Tapi itu dulu sebelum ia mendapatkan pekerjaan di luar kota yang membuat kami jarang bertemu. Dan aku tak protes meski ada rasa kehilangan yang sungguh terasa ketika dalam malam panjang penuh ide dan rencana itu, aku tak lagi mendengar suara lembut perempuan itu. Aku kehilangan seorang kawan. Aku kehilangan perempuan yang dengannya aku bisa lepas mengungkapkan ide-ide gilaku. Angie juga adalah seorang pembaca paling setia dan selalu menjadi orang yang pertama kali membaca semua tulisanku. Entah itu puisi, cerpen maupun artikel. Dan Angie selalu hadir dengan kritik yang hingga saat ini tetap mendorongku untuk tetap bertahan menulis apapun hambatannya.

Tapi sebentuk hati itu lain. Dia seperti menjadi rangkuman dari semua kelebihan ketiga perempuan itu. Dia gemar tersenyum. Dan harus kuakui kalau senyumnya begitu menawan. Manis. Bahkan dia kelihatan jauh lebih cantik ketika tersenyum. Dia juga jago meracik kopi. Semua orang setuju. Girun, Fritz, Joe, Al, Vheyn, Rendy dan masih banyak yang lain, sepakat kalau kopi buatannya adalah satu-satunya kopi yang mampu menandingi kehebatan rasa kopi racikan Sebe Maus, pemilik kedai kecil di kampus kami. Dia juga mampu membuatku melupakan kepergian Angie. Dia bisa tahan berdiskusi berjam-jam denganku, melakukan kritik mendalam terhadap semua tulisanku, dan masih banyak kelebihan lainnya. Dia begitu sempurna. Terlalu sempurna untuk benar-benar kuterima sebagai sebuah kenyataan.

* * *

Tapi kemarin malam, semuanya berubah seratus delapan puluh derajat. Semua keadaan menjadi terbalik. Semua menjadi tak sama lagi seperti biasanya. Dan itu terjadi tadi malam. Ketika semua orang belum tidur. Ketika Girun masih sibuk mengutak atik laptopnya, ketika Fritz masih setia membaca lembar demi lembar sebuah buku yang cukup tebal, ketika Joe sedang menikmati siaran langsung pertandingan sepakbola, ketika Al sedang memainkan pensilnya diatas kertas, ketika Vheyn dan Rendy sedang tenggelam dalam lagu-lagu gubahan mereka sendiri, ketika Waty sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya, ketika Gace sedang menyusun jadwal kegiatan kami selama sebulan kedepan, dan ketika dia sedang duduk menemani sekaligus mengawasiku mengetik sebuah laporan yang disuruh oleh Gace.

Lalu ketika tanganku tak sengaja menggenggam tangannya dengan sengaja. Padahal tujuanku adalah gelas kopi yang berada di sebelah kananku. Tapi justru, aku menyentuh tanggan yang sedang memeluk erat sebuah gelas lain. Aku segera menyadari bahwa aku salah menempatkan tanganku. Tapi karena sifat usilku yang belum hilang hingga saat ini, aku tetap saja dengan bodohnya menggenggam tangannya untuk beberapa saat lalu berpura-pura tersadar sambil meminta maaf. Dan Waty sempat menyaksikan peristiwa ini. Lalu seperti biasa, sifat kekanak-kanakannya kambuh dengan memberitahukan keseluruh penghuni rumah bahwa aku menggenggam tangan sebentuk hati itu. Waty berteriak-teriak seperti orang kegirangan mendapatkan lotere.

Semua orang langsung merespon. Seperti mendengar sebuah kabar angin yang harus segera didatangi ketempat kejadian agar menemukan kebenaran. Dalam sekejap, semuanya telah mengelilingi kami berdua dengan tatapan penuh tanda tanya. Sementara dia justru menenggelamkan wajahnya yang memerah dalam-dalam sambil tersipu malu. Sedang aku berpura-pura tak mengerti apa-apa dengan terus saja mengetik dan tak memperdulikan semua orang yang kini meminta klarifikasi dariku sebab dan alasan dibalik kejadian ini.

jalan ini telah kukenali karena sepi
dan aku menjalani dengan diam di hati
sendiri
aku egois
tak ingin berteman di petulangan ini
tak mau menggenggam tangan
aku terbiasa sapa angin sendiri
dan embun telah kenal ini
selalu sendiri
aku egois
blum ingin berbagi canda mentari
blum ingin ditemani menari
meski bunga sebentar lagi layu
walau hari sejenak lagi glap beku
tetap sendiri
aku egois