Bay #02: Surat Untuk Yzie

Ada orang yang tak mengerti tentang sayatan-sayatan yang tercipta setiap ada tetes bening yang menggumpal dari dalam hati. Begitu pula masih demikian banyaknya orang-orang yang tak mengerti ekstase ketika disetubuhi dingin. Mungkin sebagian manusia lebih menginginkan syair yang didendangkan hingga selesai ketimbang bertarung melawan kantuk dan waktu untuk menunggu salam dari pagi. Sama seperti keinginan untuk membongkar semua rahasia agar telanjang.

Tapi, apa pernah kau berpikir bagaimana nanti rupa dunia jika tak ada lagi tanya? Saat kau dan aku sudah menjadi Tuhan dan taman Eden kembali, apa mungkin kita masih saling bertukar tanya? Masihkah ada ruang yang cukup buat kita berdua menjemur semua cerita di bawah matahari? Aku takut jika sungguh itu terjadi. Aku tak ingin mendapati ujung pelangi di sebuah tempat nanti. Aku berbohong kalau aku tak pernah mencium kejutan dan aku menyukainya.

Namun memang tak semua harus diucapkan. Jika demikian, tak perlu kita memahat huruf. Bila semua bisa didendangkan, tentu tak perlu kitab-kitab tercipta. Maka manusia tak butuh lagi kata yang berupa, bernyawa dan abadi. Dunia tak butuh lagi para penyulam kisah. Dunia tak butuh lagi aku.

Atau mungkin kau berdoa saja kepada Tuhan agar diberikan sebuah mujizat. Sebentuk pohon penyimpan kenangan yang mesti sanggup meletakkan setiap rindu dan sepi berdamping erat di tiap daun. Tanam tepat di tengah dunia agar bisa dimiliki banyak orang. Biar tak ada yang mesti setiap malam kehilangan cerita dan membongkar tumpukan kertas pembantu ingat. Aku akan membantumu berdoa kepada Tuhan. Ini kebaikan yang melampaui sejarah dan zaman. Hanya orang-orang terpilih yang bisa melihat bintang jatuh. Dan hanya sebagian yang beruntung untuk punya ingatan yang belum semuanya dijual.

Mengingat wajah lebih mudah daripada harus mengingat sumpah. Semudah mencari tangan yang pernah lepas ketika menggenggam kita. Tapi apa pernah kau mendapati senyummu dalam bayangan hingga kau memaksaku telanjang seketika? Ini bisa jadi waktu yang tepat buatmu untuk belajar tentang namaku. Tentang semua kawat berduri yang kukalungi yang selalu kau tatap. Itu bukan punyamu.

: Bay

Bay kini tersesat meski telah mencoba jauh berlari menghindar. Tapi sayang ia tak pintar berkelit. Tak sanggup menghindar dari sergapan rasa yang sudah menunggunya di sebuah simpang kemudian memaksanya kembali larut dalam dilema. Tentang ikrar hati. Sebuah janji sendiri di temani sunyi.

Bay tak mampu untuk membuang semua prasangka yang membawa kenangan itu datang bersama luka. Mengingatkan lagi tentang sakit yang belum pernah sembuh benar karena masih sering berdarah jika tersentuh. Perih yang hampir cukup lama sudah tak pernah di rasa sebelum subuh ini. Ketika Bay mendengar lagi isak, semua yang telah dipaksa lupa dan hilang kembali mendapat ijin pulang. Kemudian berlomba-lomba menamparnya hingga memar dan lebam di sekujur tubuh.

Meski Bay tak mengeluarkan sepotong suara, dingin mengerti dan tak mau memaksa.