Bay #01: Refleksi

Segala yang baru selalu terlihat lebih menarik. Bay kini membenarkan hal ini. Tak mungkin melakukan penyangkalan. Tak bisa ia berkelit bahwa itu cuma sekedarnya. Tidak. Bay bukan orang bodoh yang mau bersusah payah mengajarkan kebohongan pada diri sendiri. Bahkan sebaliknya. Bay adalah jenis individualis yang memiliki pori-pori peka dengan setiap gerak dan rindu yang dinyanyikan. Telinganya selalu tajam dan teliti menyusuri detil-detil kisah yang dibuang orang di pinggir jalan. Bay membawa pulang dan menidurkan mereka di atas ranjang terbaik. Lalu setelah dewasa, Bay akan menyenggamahi semuanya dan ektase di atas setiap perut yang dia jelajahi. Maka tak salah jika Bay adalah orang yang paling mengerti tentang rasa. Sebab tak mungkin jika ia melakukannya tanpa kantong tebal penuh asa. Dan semuanya sempat sama beberapa waktu, menua dan membosankan ketika tertinggal menyerupai kenangan. Saat itu, segala sesuatu yang baru selalu terlihat lebih menarik.

Lupa begitu sederhana dalam ucap. Bay tak paham soal ini. Kebebasan terlanjur memenjarakannya hingga tak ada lagi protes seperti biasanya saat semua tak seharusnya. Bay tenggelam dalam hiperbola-hiperbola yang dia kenali. Einstein yang lupa warna pakaian dalamnya. Larut tanpa perlawanan hingga Bay tak beda jejak di bibir pantai. Dan jika sesal nanti, membeli ingatan adalah percuma. Kemudian penuh dendam mencibir hari ini yang tak mampu dirayu dengan janji. Bay tak ingat, lupa begitu sederhana dalam ucap.

Hingga kemarin usai juga. Namun Bay belum juga rela melepas pergi. Ada enggan yang semakin tak tertahan karena egoisme telah melapisi segi-segi diagfragma dan membuat kalap. Panik. Bay limbung kali ini dan tergesa-gesa mencari pijakan atau sekedar ruang rehat sedetik menghalau irasionalitas yang hampir menjadi tuan. Memang Bay masih terlalu tangguh untuk hantaman setelak itu. Ia masih punya cadangan kesombongan yang lebih dari cukup untuk memberi makan 10.000 orang tanpa mimpi. Tapi secuilpun akan berbekas. Harus ada ruang yang direlakan sebagai konsesi. Mau tak mau, Bay meski menamai itu agar tak sesat nanti kalau khayalan butuh teman dialog. Sebab penanda yang terus menjaga agar ingatan tak punah dan tetap terawat ketika semua seakan telah punya sketsa dunia duniabaru. tapi Bay tak juga melakukannya hingga kemarin usai juga.

Gerimis sore ini mungkin bisa disalahkan. Atau sekalian saja dihukum penggal sebagai peringatan tegas pada yang lain. “Tak baik mengusik masa lalu!” Namun tangan besi tak jarang menyulut pemberontakan. Bay tak ingin itu. Sudah terlalu lelah jika harus lagi menapaki terjal. Dulu pernah sekali ia mencoba karena begitu buta cinta kepada keniscayaan. Hingga tak sadar punggungnya berlobang ratusan anak panah yang berinduk karib sendiri. Ini kenapa Bay begitu membenci perang. Terlalu banyak yang harus dibakar dan kemudian melenyap atas nama ideologi. Itu konyol. Orang bodoh pun belum tentu ingin mengakhiri nafasnya di ujung bedil tanpa nama. Dan Bay tidak bodoh. Hanya kurang cerdas karena tak mau mendinginkan hati untuk belajar menerima rajutan detik demi detik setiap saat. Bay menggelarinya: kenangan. Sebuah indah yang terjaga. Dan semua yang tak setuju adalah bersalah. Kenapa tidak? Melempar salah sudah tradisi dalam kita. Gerimis sore ini mungkin bisa disalahkan.

Aku bertemu Bay di sudut ini. Bukan di persimpangan di mana kita pernah bertukar nama. Bukan juga dibawah matahari yang pernah kau namai. Tapi dibawah sebuah jendela kayu tempat memandang jauh. Bay ada di situ tanpa airmata. Kering dan gersang. Kesepian prima yang menembus kuantum teori dan pernah menyeret paksa sebagian dari kita untuk belajar merangkak diatas air. Aku menemukan Bay dalam bisu yang semakin sukar untuk dipisahkan agar mengerti harum jarum jam yang tak pernah kan berhenti mengecup berulang semua angka yang dia temui. Tapi senyum di mata Bay terlalu damai bahkan untuk sepenggal bagian dalam dongeng. Terlalu sempurna tak baik untuk kesehatan. Sebab aku pernah mendapati serupa yang hancur ketika diperluk. Aku tak ingin Bay mengalami kehilangan itu. Ini mengapa akiu bertemu Bay di sudut ini.

Dan berdialog tentang indahnya kesunyian. Ketika mimpi diajak bercinta dengan foreplay yang panjang dan memabukkan, maka tentu orgasme terbaik sudah jadi jaminan. Bay seperti prajurit garis depan yang semakin sabar merakit strategi setelah lama tak melihat wajah purnama di kebun belakang rumahnya. Tak lagi disibukkan dengan semakin ribunnya ilalang yang tumbuh disela-sela kata yang ditanam di dekat hulu sungai yang pernah menghanyutkan pagi. Tak usah gundah dan tergesa-gesa bangun jika ada lolong panjang tengah malam anjing penjaga karena tak ingin ada lain merebut mimpi. Sebab kini Bay telah temukan kotak ajaib untuk menyimpan imajinasi sehingga bebas mengajaknya tamasya kapan saja. Siang ataupun malam. Tak butuh lagi nyala api unggun. Cukup saja sebutir keliaran sebagai awal untuk memulai semuanya. Lalu dengan telaten Bay akan memboncengnya mengitari sepertiga bumi sembari mengajak melepas beban dan berdialog tentang indahnya kesunyian.

Kemudian datang saat itu. Ketika dengan berani Bay menepis yang lain hanya karena diguyur gusar imut saat sebuah senyum tak sengaja salah alamat di kotak pos depan rumahnya. Seperti linglung karena kehabisan oksigen lalu ikut dalam barisan manusian yang rela mengantri untuk jatah sekali tarikan nafas. Dengan sadar Bay ikut dalam barisan tuntutan yang tidak ia mengerti. Dia bukan bagian dari rasa sakit yang ramai ini. Bay mengejar yang lain dan menunggangi luka berbeda. Sebentuk pengejaran fatamorgana yang telah kujelaskan sebisa mungkin bahwa itu tak nyata. Tapi tidak. Ia memaksa hatinya untuk percaya pada kesaksian matanya yang hanya mengenal hujan dan embun. Bay menepikan risau yang datang pagi-pagi untuk mengingatkan janji yang sudah dipahat disebentuk liat tanah. Ingkar. Dan ini yang pertama kali ada sumpah yang dilanggar dengan sengaja. Meninggalkan meja judi saat kartu sudah mulai dibagikan tanpa menunjuk pewaris. Bay sengaja memulai perang. Inilah waktu kemudian datang saat itu.

Andre Barahamin