Bay #00: Di Sunyi Ramai

Keramaian adalah senjata manusia yang tak mampu menaklukkan sunyi. Tempat pelarian dalam keterasingan yang dicumbu laiknya perawan lugu. Ruang untuk kepura-puraan yang sengaja ditetaskan untuk melupakan perih yang mencambuk. Manusia senang menipu diri sendiri. Itu ekstase prima yang pernah di jalani semua kita. Meski mengingkari, tak bisa kita lari bahwa kita semua adalah penipu. Laknat pendusta bertabir surga. Kita sekumpulan pendosa.

Itu sebabnya, manusia senang memporak porandakan rumah di mana sepi tinggal. Menggantikan semua dengan kebisingan yang penuh adegan pembantaian. Kemudian di buatkan kuil-kuil sunyi yang mahal sebagai bilik baru untuk ketenangan tinggal. Dan tiap kita yang ingin sekedar jumpa, bersalaman, menukar nama lalu berbincang ramah, merogoh kocek sedalam mungkin menjadi tumbal. Tapi seumpama hewan yang dituntun ke penjagalan, semua menurut tanpa bantah. Tanpa protes. Karena memang kita takut menertawakan diri sendiri. Semua kita adalah pengecut. Penakut sombong yang merangkai jutaan kisah agar dapat sembunyi.

Lalu jika kita temukan mereka yang syahdu dalam tapa ketenangan, cibiran dilempar agar kita terlihat suci. Menentang adanya pemuja sepi yang hidup bahagia sementara kita tertindih ramai semu yang menyesakkan. Gelinding hidup penuh tekanan yang kita ciptakan sendiri dengan sadar. Padahal, hanya orang bodoh yang mendirikan penjara untuk dirinya sendiri. Dan kita adalah orang-orang bodoh. Yang mengangkat dagu tinggi untuk prestasi berselimut ilusi. Mimpi yang di pamer sebagai intan.

Tapi Bay tidak! Ia adalah bagian dari sepi. Ketenangan yang membatu bersama kerasnya hati.